0 0
Read Time:1 Minute, 39 Second

OBATDIGITAL – Selain diet vegetarian yang mengandalkan pada nabati, sebagian orang memilih diet tinggi lemak. Namun banyak orang tak menyadari bahwa diet tinggi lebih banyak mudharat daripada manfaat. Sebab, diet ini tidak hanya membuat pinggang menjadi lebar, melainkan juga dapat merusak otak.

Sebuah studi internasional yang dipimpin oleh ahli saraf UniSA Profesor Xin-Fu Zhou dan Associate Professor Larisa Bobrovskaya telah menunjukkan hubungan yang jelas itu ketika diujicobakan pada tikus. Mereka melihat tikus yang diberi diet tinggi lemak selama 30 minggu, yang mengakibatkan diabetes, dan penurunan berikutnya dalam kemampuan kognitif mereka, termasuk mengembangkan kecemasan, depresi dan memburuknya penyakit Alzheimer.

Tikus dengan gangguan fungsi kognitif juga lebih mungkin untuk mendapatkan berat badan yang berlebihan karena metabolisme yang buruk yang disebabkan oleh perubahan otak.

Dalam studi tersebut, tikus secara acak dialokasikan untuk diet standar atau diet tinggi lemak selama 30 minggu, dimulai pada usia delapan minggu. Asupan makanan, berat badan dan kadar glukosa dipantau pada interval yang berbeda, bersama dengan tes toleransi glukosa dan insulin dan disfungsi kognitif.

Tikus yang diberi diet tinggi lemak bertambah berat badannya, mengembangkan resistensi insulin dan mulai berperilaku tidak normal dibandingkan dengan tikus yang diberi diet standar.

Tikus penyakit Alzheimer yang dimodifikasi secara genetik menunjukkan penurunan yang signifikan dari kognisi dan perubahan patologis di otak saat diberi makan diet tinggi lemak.

Para peneliti dari Australia dan China telah mempublikasikan temuan mereka di Metabolic Brain Disease, yang dikutip oleh Science Daily (7/7/2022).

Larisa Bobrovskaya mengatakan penelitian tersebut menambah semakin banyak bukti yang menghubungkan obesitas kronis dan diabetes dengan penyakit Alzheimer, yang diprediksi akan mencapai 100 juta kasus pada tahun 2050.

“Temuan kami menggarisbawahi pentingnya mengatasi epidemi obesitas global. Kombinasi obesitas, usia dan diabetes sangat mungkin menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, penyakit Alzheimer dan gangguan kesehatan mental lainnya,” ujar Bobrovskaya.

“Obesitas dan diabetes merusak sistem saraf pusat, memperburuk gangguan kejiwaan dan penurunan kognitif. Kami menunjukkan ini dalam penelitian kami dengan tikus,” kata Bobrovskaya.

Menurutnya, orang gemuk memiliki sekitar 55 persen peningkatan risiko depresi, dan diabetes akan melipatgandakan risiko itu.

About Post Author

Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.

Translate »