30 Mei 2024

Mau Sehat? Klik Obat Digital

Siapa Raja Farmasi Tahun 2023? Ini Sosoknya

OBATDIGITAL – Novo Nordisk selayaknya berterima kasih Ozempic dan dan Wegovy. Berkat obat diabetes dan obesitas, penjualan produk pabrik farmasi asal Denmark melampaui ekspektasi.

Novo Nordisk membuat lompatan signifikan, melonjak lima tingkat didorong oleh meroketnya penjualan dua obat itu, meskipun belum berhasil menembus 5 besar.

Raja farmasi asal Amerika Serikat, Pfizer, harus menyerahkan peringkat 1, dan anjlok keperongkat empat lantaran penghasilannya merosot tajam. Ini karena vaksin COVID-19, Comirnaty dan obat Paxlovid tak laku lagi dijual setelah COVID-19 mereda.

Pfizer menyerah lantaran pendapatannya anjlok 41% dari rekor industri UD$100,3 miliar pada tahun 2022 menjadi UD$58,5 miliar tahun lalu.  Setelah keduanya digabungkan untuk menghasilkan penjualan sebesar US$56,7 miliar pada tahun 2022, pendapatan mereka turun hingga gabungan penjualan sebesar $12,5 miliar pada tahun lalu.

Perubahan pada peringkat tertinggi dan terendah disebabkan oleh anjloknya penjualan produk-produk COVID-19.

Menurut Fiercepharma.com, Pfizer terpaksa menyerahkan kursi nomor kepada Johnson & Johnson, perusahaan farmasi yang juga berpusat negeri Paman Sam.

Johnson & Johnson mengalami peningkatan pendapatan sebesar 6,5% menjadi US$85,2 miliar. Hal ini merupakan hal yang lumrah bagi J&J, yang telah berjalan selama satu dekade dari tahun 2012 hingga 2021 sebagai pemimpin pendapatan di industri ini.

Posisi kedua ditempati Roche, perusahaan farmasi berbasis di Swiss. Perusahaan ini tumbuh sebesar 1% dengan mata uang konstan meskipun kehilangan pendapatan terkait COVID sebesar 4,3 miliar franc Swiss. Namun, berkat mata uang franc Swiss yang kuat, pendapatan perusahaan sebesar 58,7 miliar franc Swiss (US$65,3 miliar) pada tahun 2023.

Di unit farmasi, penjualan mencapai 44,6 miliar franc Swiss ($49,6 miliar), meningkat sebesar 9% dengan nilai tukar konstan jika tidak termasuk obat antibodi COVID yang bermitra dengan Regeneron, Ronapreve.

Sedangkan Moderna dan BioNTech, yang masing-masing menduduki slot No. 18 dan No. 20, pada tahun 2022, dengan penjualan sebesar US$19,3 miliar dan 17,3 miliar euro (US$18,2 miliar).

Keduanya termasuk dalam 20 besar industri pada tahun 2021, namun, tahun lalu, pendapatan mereka anjlok menjadi US$6,8 milyar dan 3,8 milyar euro (US$4,1 miliar). Secara otomatis kedua perusahaan itu terlempar dari 20 besar.

Berikut urutan 20 besar pendapatan industri farmasi global versi Fierce Pharma:

  1. Johnson & Johnson, pendapatan US$85,16 milyar (2023), US$ 79,99 milyar (2022);
  2. Roche, pendapatan US$65,32 milyar (2023), US$66,26 milyar (2022) ;
  3. Merck, pendapatan US$60,1 milyar (2023), US$59,3 milyar (2022);
  4. Pfizer, pendapatan US$58,5 milyar (2023), US$100,3 milyar (2022);
  5. Abbvie, pendapatan US$ 54,3 milyar (2023), US$58,1 milyar (2022);
  6. Sanofi, pendapatan US$46,6 milyar (2023), US$35,2 milyar (2022);
  7. AstraZeneca, pendapatan US$45,81 milyar (2023), US$44,35 milyar (2022);
  8. Novartis, pendapatan US$45,44 milyar (2023) US$42,21 milyar (2022);
  9. Bristol Myers Squibb, pendapatan US$45 milyar (2023), US$46,2 milyar (2022);
  10. Glaxo Smithkline (GSK), pendapatan US$38,4 milyar (2023), US$36,1 milyar (2022);
  11. Eli Lily, pendapatan US$34,1 milyar (2023), US$28,5 milyar (2022);
  12. Novo Nordisk, pendapatan US$ 33,7 milyar (2023), US$ 28,2 milyar (2022);
  13. Amgen, pendapatan US$28,2 milyar (2023), US$26,3 milyar (2022);
  14. Boehringer Ingelheim, pendapatan US$27,7 milyar (2023), US$25,3 milyar (2022);
  15. Takeda, pendapatan US$27 milyar (2023), US$30 milyar (2022);
  16. Gilead, pendapatan US$26,9 milyar (2023), US$27 milyar (2022);
  17. Bayer, pendapatan US$24,1 milyar (2023), US$25,3 milyar (2022);
  18. Merck KGaA, pendapatan US$18,8 milyar (2023), US$19,2 milyar (2022);
  19. Teva, pendapatan US$15,8 milyar (2023), US$14,9 milyar (2022);
  20. Viatris, pendapatan US$15,4 milyar (2023), US$16,6 milyar (2022).

Sumber: Fierce Pharma