19 April 2024

Mau Sehat? Klik Obat Digital

Kenali Kisqali, Obat Kanker Payudara Yang Mengurangi Risiko Kekambuhan

Novartis keluarkan obat kanker payudara yang dapat mengurangi risiko kekambuhan

OBATDIGITAL – Penderita kanker payudara tak perlu kawatir kalau penyakitnya kambuh lagi, sebab kini ada obat yang diklaim bisa mengurangi risiko kekambuhan.Novartis, perusahaan farmasi Swiss Novartis membuat obat  ribociclib yang menurut studi bisa mengurangi risiko ini hingga seperempat dalam kelompok besar penyintas tahap awal.

Hasil dari uji klinis dipresentasikan pada hari Jumat di pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology (ASCO) dan dikutip oleh Medical Xpress (2/6/2023). 

Studi tentang ribociclib, yang termasuk dalam kelas obat baru yang dikenal sebagai terapi bertarget molekuler, digambarkan sebagai “uji klinis yang sangat penting dan mengubah praktik,” oleh pakar ASCO Rita Nanda, yang tidak terlibat dalam penelitian. 

Mayoritas dari dua juta kanker payudara baru yang didiagnosis secara global berada pada fase awal penyakit, yang didefinisikan sebagai stadium I hingga III. 

“Standar terapi saat ini untuk pasien ini adalah pembedahan diikuti dengan kemoterapi… atau radiasi, kemudian diikuti antara lima dan 10 tahun blokade hormonal dengan berbagai terapi endokrin,” kata penulis utama Dennis Slamon dari UCLA Jonsson Comprehensive Cancer Center kepada wartawan.

Tetapi kekambuhan setinggi lebih dari satu dari tiga orang untuk stadium I, dan lebih dari satu dari dua orang di stadium III, dengan kanker terkadang kembali beberapa dekade kemudian. 

“Setelah diagnosis kanker payudara dini, pasien hidup dengan kekhawatiran terus-menerus dan seumur hidup bahwa kanker mereka akan kembali,” kata Fran Visco, presiden Koalisi Kanker Payudara Nasional yang menjadi panitia penelitian saat ini. 

Uji klinis melibatkan lebih dari 5.100 orang dengan stadium II dan stadium III kanker payudara HR-positif, HER2-negatif, yang merupakan subtipe yang paling umum, mencapai hampir 70 persen dari semua kasus kanker payudara di Amerika Serikat. 

Separuh pasien menerima ribociclib—dipasarkan dengan merek Kisqali—serta terapi hormonal, sedangkan separuh lainnya hanya menerima terapi hormonal. Mereka melanjutkan untuk masa pengobatan selama tiga tahun. 

Tetapi uji coba dihentikan lebih awal karena perbedaan yang signifikan dalam hasil antara kedua kelompok menjadi jelas, dan tidak etis membiarkan kelompok yang hanya menggunakan terapi hormon melewatkan pengobatan yang lebih efektif.

Walhasil secara keseluruhan, 7,4 persen pasien dalam kelompok ribociclib mengalami kekambuhan dibandingkan 9,2 persen pasien dalam kelompok terapi hormon saja.