anak minum susu
0 0
Read Time:3 Minute, 20 Second

OBATDIGITAL – Sejauh ini banyak studi mengaaitkan produk susu dengan risiko terkena kanker masih tidak konsisten. Ada yang menunjukkan bahwa produk susu bisa menurunkan risiko terkena kanker kolorektal, kanker payudara, dan jenis kanker lain. Tetapi studi lain menunjukkan kaitan dengan kanker prostat.

Hasil ini, bagaimanapun, mungkin tidak sama untuk populasi non-Barat, di mana jumlah dan jenis konsumsi susu dan kemampuan untuk memetabolisme produk susu sangat berbeda.

Misalnya, di Cina konsumsi keju dan mentega sangat sedikit, dan konsumsi susu dan yogurt juga jauh lebih rendah daripada populasi Barat. Selain itu, kebanyakan orang dewasa Cina tidak dapat memetabolisme produk susu dengan baik karena kekurangan laktase, enzim kunci untuk memecah laktosa gula susu.

Untuk menentukan apakah produk susu mempengaruhi risiko kanker secara berbeda pada orang China, para peneliti dari Oxford Population Health (Amerika Serikat) Universitas Peking, dan Akademi Ilmu Kedokteran China, Beijing, telah menerbitkan hasil studi skala besar baru di BMC Medicine. Ini mengumpulkan data dari lebih dari 510.000 peserta dalam Studi Biobank Kadoorie China.

Seperti dikutip dari Medical Xpress (8/5/2022), para peserta (59% perempuan, 41% laki-laki), yang berasal dari sepuluh wilayah geografis yang beragam di seluruh China dan bergabung dengan penelitian antara tahun 2004 dan 2008, tidak memiliki riwayat kanker sebelumnya.

Saat direkrut, setiap peserta (berusia 30-79 tahun) mengisi kuesioner tentang seberapa sering mereka mengonsumsi produk makanan yang berbeda, termasuk produk susu.

Para peneliti mengkategorikan peserta ke dalam tiga kelompok: konsumen susu biasa (setidaknya seminggu sekali), konsumen susu bulanan, dan orang-orang yang tidak pernah atau jarang mengonsumsi produk susu (non-konsumen).

Peserta ditindaklanjuti selama rata-rata sekitar 11 tahun, dan para peneliti menggunakan data dari kanker nasional dan pendaftar kematian serta catatan asuransi kesehatan untuk mengidentifikasi diagnosis kanker baru. Peristiwa fatal dan non-fatal dimasukkan.

Analisis data memperhitungkan berbagai faktor lain yang dapat mempengaruhi risiko kanker, termasuk usia, jenis kelamin, wilayah, riwayat keluarga kanker, status sosial ekonomi (yaitu pendidikan dan pendapatan), faktor gaya hidup (yaitu asupan alkohol, merokok, fisik aktivitas, konsumsi kedelai dan asupan buah segar), indeks massa tubuh, infeksi virus hepatitis B kronis (untuk kanker hati), dan faktor reproduksi wanita (untuk kanker payudara).

Hasilnya, sekitar seperlima (20%) dari peserta mengonsumsi produk susu secara teratur (terutama susu), 11% mengkonsumsi produk susu setiap bulan, dan 69% adalah non-konsumen.

Konsumsi rata-rata adalah 38g per hari secara keseluruhan di seluruh populasi penelitian dan 81 gram per hari di antara konsumen susu biasa (dibandingkan dengan konsumsi rata-rata sekitar 300 gram per hari pada peserta yang diambil Bank data Inggris (UK Biobank).

Selama masa penelitian tercatat 29.277 kasus kanker baru, dengan tingkat tertinggi adalah kanker paru-paru (6.282 kasus), diikuti oleh payudara wanita (2.582 kasus), perut (3.577 kasus), kolorektal (3.350 kasus) dan kanker hati (3.191 kasus). ).

Kemudian, orang yang mengonsumsi produk susu secara teratur memiliki risiko lebih besar terkena kanker hati dan payudara. Untuk setiap asupan 50g/hari, risikonya meningkat masing-masing sebesar 12% dan 17%.

Konsumsi susu secara teratur dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma (meskipun ini tidak signifikan secara statistik). Hasil lainnya: tidak ada hubungan antara asupan susu dan kanker kolorektal, kanker prostat, atau jenis kanker lainnya yang diselidiki.

Menurut si peneliti, konsumsi susu yang lebih besar, misalnya, dapat meningkatkan kadar faktor pertumbuhan seperti insulin-I (IGF-I), yang mendorong proliferasi sel dan telah dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk beberapa jenis kanker.

Secara potensial, hormon seks wanita yang ada dalam susu sapi (seperti estrogen dan progesteron) mungkin memiliki peran dalam peningkatan risiko kanker payudara, sementara asam lemak jenuh dan trans dari produk susu dapat meningkatkan risiko kanker hati. Bagi sebagian besar orang Cina yang tidak menghasilkan cukup laktase, produk susu juga dapat dipecah menjadi produk yang memengaruhi risiko kanker.

Maria Kakkoura, Ahli Epidemiologi Nutrisi di Oxford Population Health, dan penulis pertama studi tersebut, mengatakan bahwa dalah studi besar pertama yang menyelidiki hubungan antara produk susu dan risiko kanker pada populasi China.

“Studi lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasinya. temuan saat ini, tentukan apakah hubungan ini kausal, dan selidiki mekanisme potensial yang mendasari yang terlibat,” pungkas Kakkoura.

About Post Author

Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.

Translate »