15 Desember 2025

Obat Digital

Berita Seputar Farmasi dan Kesehatan

Teknologi AI Dapat Mengatasi Keterbatasan Dokter Spesialis

penderita jantung
penderita jantung

OBATDIGITAL – Teknologi berbasis AI (artificial intelligence) telah merambah semua sektor, termasuk sektor kesehatan. Berbagai produsen alat kesehatan pun ikut mengembangkan teknologi AI untuk bisa ditetapkan dalam setiap produk teknologinya.

Salah satunya yang dilakukan Royal Philips,perusahaan teknologi asal Belanda. Di Indonesia perusahaan itu menjalin kerjasama dengan penyedia layanan kesehatan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi alur kerja di seluruh tahapan layanan.

Berbagai solusi pencitraan berbasis AI, seperti ultrasonografi jantung, CT, dan MRI, membantu dokter mendeteksi kondisi jantung lebih awal dan lebih akurat, serta mempercepat proses diagnosis. Pengukuran otomatis dan wawasan waktu nyata juga menyederhanakan alur kerja klinis dan meningkatkan keyakinan dalam diagnosis.

Hal itu terungkap dalam jumpa pers yang digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat (28/5/2025). Dalam diskusi itu dihadirkan narasumber dari Yayasan Jantung Innesia, Dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah, dan dari pihak Royal Philips.

Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, platform informatika terintegrasi mendukung penanganan kasus jantung kompleks dengan menghubungkan data pencitraan dan data klinis lintas departemen.

Tim multidisiplin—mulai dari kateterisasi jantung, ekokardiografi, CT, hingga MRI—dapat mengakses satu tampilan terpadu pasien untuk melacak perkembangan penyakit dan mengambil keputusan dengan lebih cepat dan tepat.

Alat digital seperti pemantauan jarak jauh dan analitik prediktif juga memberdayakan tenaga kesehatan untuk mengelola kondisi kronis secara proaktif, mengurangi kunjungan rumah sakit yang tidak perlu, dan menjaga keterlibatan pasien dalam pengelolaan kesehatannya sendiri.

“Perjuangan Indonesia melawan penyakit jantung memerlukan lebih dari sekadar tenaga medis — kita memerlukan inovasi,” ujar Astri kepada wartawan.

Dengan keterbatasan jumlah dokter spesialis jantung dan beban penyakit yang terus meningkat, kita butuh solusi teknologi kesehatan yang mampu mempercepat diagnosis dan intervensi.

“Kami berkomitmen untuk membangun sistem kesehatan yang lebih kuat dan tangguh, sejalan dengan visi kami untuk memberikan perawatan yang lebih baik bagi lebih banyak orang,” imbuhnya.

Para pemangku kepentingan sepakat bahwa teknologi mutakhir harus disertai dengan kemitraan publik-swasta yang solid untuk mempercepat transformasi kesehatan digital di Indonesia.

“Transformasi digital bukan hanya soal teknologi, tapi juga bagaimana kita bekerja sama untuk membayangkan kembali cara pelayanan kesehatan diberikan,” tambah Astri.

Untuk memberikan dampak nyata, inovasi ini harus dapat diakses, dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas, dan dibangun berdasarkan kebutuhan para tenaga kesehatan dan pasien di seluruh Indonesia.

Aries Kelana