OBATDIGITAL – Jumlah penderita kanker anak di Indonesia mendorong sejumlah organisasi menggalang kerjasama penanganan kanker anak. Salah satunya yang dilakukan Philig⁸⁹⁸lkps Foundation yang menggandeng World Chilglmd Cancer (WCC).
Keduanya sepakat menyediakan akses ke layanan kesehatan berkualitas bagi 100 juta orang per tahun di komunitas yang kurang terlayani pada tahun 2030.
Caranya dengan meluncurkan inisiatif berskala besar yang bertujuan meningkatkan deteksi dini dan pengobatan kanker anak di Indonesia.
Selama beberapa tahun, kerja sama ini akan memperkenalkan aplikasi kesehatan inovatif sebagai sumber informasi utama mengenai kanker anak – membantu penyedia layanan kesehatan, orang tua, dan masyarakat untuk melakukan diagnosis dini secara komprehensif dan memberikan rujukan yang tepat.
Program pelatihan yang kuat juga akan diluncurkan untuk meningkatkan keterampilan ahli radiologi dalam deteksi kanker anak menggunakan teknologi ultrasound dan CT, melalui serangkaian modul e-learning dan sesi pelatihan langsung.
Pelaksanaan inisiatif ini akan didukung oleh Onkologi Anak Princess Máxima Center di Belanda serta beberapa mitra lokal di Indonesia seperti Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin di Bandung, Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito di Yogyakarta, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, dan Yayasan Anyo Indonesia.
Welmer Blom, Managing Director World Child Cancer Belanda, mengatakan bahwa tiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama sejak dini – akan diagnosis kanker yang akurat serta akses yang setara terhadap pengobatan dan perawatan.
“Melalui kerja sama dengan beberapa pemangku kepentingan ini, kami menjembatani kesenjangan dalam perawatan kanker anak di Indonesia — meningkatkan kesadaran, mendorong diagnosis dan pengobatan yang lebih awal, serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup,” kata Welmer Blom.
Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari 400.000 anak di seluruh dunia didiagnosis kanker setiap tahun, dengan sekitar delapan dari sepuluh di antaranya berada di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Karena terbatasnya akses ke diagnosis dan pengobatan, kurang dari tiga dari sepuluh anak tersebut dapat bertahan hidup. Ini sangat kontras dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih dari 80% di negara berpendapatan tinggi.
Perbedaan ini menunjukkan perlunya intervensi yang berkelanjutan dan jangka panjang, yang sejalan dengan inisiatif global WHO tentang kanker anak, yang bertujuan mencapai tingkat kelangsungan hidup 60% untuk enam jenis kanker anak yang dapat disembuhkan pada tahun 2030.
Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam deteksi dan pengobatan kanker anak. Diperkirakan lebih dari 10.000 anak mengidap kanker setiap tahun.
Namun, rata-rata hanya 2.000 kasus yang tercatat antara tahun 2021 hingga 2023 – sebagian besar disebabkan oleh kesenjangan dalam kesadaran, akses ke perawatan, dan kekurangan ahli onkologi pediatrik, terutama di daerah terpencil.
“Setiap tahun, sekitar 61.000 kasus baru mans.
kanker anak didiagnosis di wilayah Asia Tenggara, namun hampir setengahnya tidak terdeteksi. Ini lebih dari sekedar angka – tetapi juga menyangkut anak-anak dengan masa depan yang panjang,” ujar Margot Cooijmans, Direktur Philips Foundation.
“Inilah mengapa kami sangat berkomitmen untuk mengurangi ketidaksetaraan kesehatan dan memberi lebih banyak anak di Indonesia kesempatan untuk tumbuh sehat,” pungkas Cooijmans.
1Aries Kelana
Sumber: Phillips Fiundation







Berita Terkait
Sambut Hari Kesehatan Nasional, Darya Varia Luncurkan Kampanye Baru
InterSystems Kembangkan Rekam Medis Elektronik Berbasis AI
Di Hari Kesadaran Kanker Hari, AstraZeneca-Siloam Hospital Ingatkan Bahaya Penyakit Ini