0 0
Read Time:1 Minute, 53 Second

OBATDIGITAL – Dela Listiya merasakan bagaimana diserang kanker tiroid. Anggota Yayasan Pitatosca itu tak menyangka bahwa benjolan di leher itu adalah kanker.

Itu setelah Dela mendapat informasi dari teman dan keluarganya adanya benjolan itu. “Baru setelah itu saya melakukan pemeriksaan awal”, kata Dela.

Selain itu, ia belakangan berjerawat mudah stres dan beberapa celana saya kebesaran.

Hal ini juga ternyata dirasakan oleh Cahyaniati, yang juga merupakan penyintas kanker tiroid dan kanker payudara.

“Setelah 5 tahun saya survive dari kanker payudara, saya kembali merasakan kejanggalan pada diri saya. Nafas saya merasa tersengal-sengal, saya kesulitan untuk berbicara dan saya mengalami batuk yang tidak kunjung usai sampai akhirnya saya melakukan PET Scan,” kata Cahya dalam rilisnya yang diterima OBATDIGITAL (12/8/2022).

Di situ ditemukan adanya hiperkalsemi dan akhirnya dia disarankan untuk melakukan tiroidektomi (pengangkatan kelenjar tiroid).

Menurut GLOBOCAN tahun 2020, kanker tiroid menempati urutan ke-12 dengan kasus kanker terbanyak yaitu mencapai 13.114. Kasus kanker tiroid ini 2-3 kali lebih berisiko pada pasien wanita dibandingkan pria. 

Arif Kurniawan, dokter bedah onkologi di RS Royal Mandaya Hospital, mengatakan bahwa gangguan yang terjadi pada tiroid kadang justru tidak dirasakan oleh pasien itu sendiri, tetapi oleh orang-orang di sekitarnya yang melihat perubahan tersebut ataupun terdeteksi karena adanya pengecekan yang tidak sengaja melalui Ultrasonografi (USG).

Untuk itu, awareness masyarakat terhadap kanker tiroid ini perlu ditingkatkan agar masyarakat bisa mendapatkan penanganan lebih dini, yaitu dengan melakukan deteksi dini.

“Selain dari pendeteksian dini, pengobatan dan penatalaksanaan pada pasien pun harus tepat,” ujarnya.

Bagaimana dengan terapinya?

Eko Purnomo, ketua Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI) menjelaskan bahwa proses pengobatan kanker tiroid selain dilakukan melalui pembedahan dilanjutkan dengan metode ablasi yaitu pembersihan sisa pembedahan dengan metode terapi nuklir.

“Biasanya masyarakat khawatir ketika mendengar kata nuklir, tetapi sebenarnya tidak perlu khawatir karena terapi nuklir ini bukan ditembakan tetapi metode ini merupakan metode terapi yang dilakukan dengan melalui sistem oral (diminum), sehingga pasien tidak perlu diinfus ataupun disuntik“, kata Eko.

Tetapi bila kanker ini mengalami refrakter (tidak mempan dengan ablasi), prinsip dan metode terapi harus diubah melalui metode sistemik, yaitu metode kemoterapi atau metode terbaru terapi target.

“Terapi target dilakukan dengan cara pasien mengonsumsi obat melalui oral kemudian akan dievaluasi 1 – 2 bulan apakah pasien memberikan respons baik atau tidak” ujar Toman Lumban Toruan, dokter spesialis onkologi medik.

About Post Author

Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.

Translate »