Kantor BPOM
0 0
Read Time:1 Minute, 36 Second

OBATDIGITAL – Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) mendukung pelaku UMKM jamu untuk mengembangkan usahanya. Hal ini juga dalam rangka meningkatkan daya saing produk jamu dan obat tradisional di Indonesia.

Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan, dukungan terhadap peningkatan daya saing produk UMKM obat tradisional termasuk jamu sangat diperlukan.

“Obat tradisional memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan dan mengisi pasar lokal maupun global, sehingga peningkatan permintaan jamu harus dikawal dengan memastikan produk jamu memenuhi persyaratan keamanan, manfaat/khasiat, dan mutu,” ujar Penny dalam keterangan resmi, (31/3/2022).

Lebih lanjut Penny mengatakan, jamu merupakan bagian dari budaya yang harus dilestarikan. Jamu juga memiliki aspek ekonomi yang dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat, khususnya di masa pandemi.

Karenanya, BPOM bersama dengan industri obat tradisional melakukan program Orang Tua Angkat Jamu untuk meningkatkan daya saing UMKM termasuk jamu gendong.

Program ini melibatkan sepuluh Orang Tua Angkat Jamu yang telah dimulai sejak 2018 dan bertambah setiap tahunnya, di antaranya yaitu PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, PT Konimex, PT Industri Jamu Borobudur, PT Mustika Ratu, PT Martina Berto, PT Sinde Budi Sentosa, dan PT Sari Enesis Indah.Ada pula PT Air Mancur, PT Ultra Sakti, dan PT Kino Indonesia.

Tahun ini jumlah tersebut bertambah lagi dengan 2 (dua) Orang Tua Angkat Jamu yaitu Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) Cilacap dan PT Karya Pak Oles Tokcer.

Sebanyak 54 UMKM jamu tradisional yang terpilih dalam program ini berkesempatan untuk mendapatkan pembinaan tentang Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), pemilihan bahan baku, teknologi produksi, dan marketing digital hingga tips menembus pasar ekspor.

BPOM terus meningkatkan efektifitas pengawasan obat dan makanan melalui berbagai strategi untuk melindungi masyarakat dari obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan.

Sampai saat ini, berdasarkan hasil pengawasan BPOM, masih ditemukan beberapa produk obat tradisional dan pangan yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO).

“Temuan ini mengindikasikan bahwa konsumen masih belum menyadari bahaya mengonsumsi obat tradisional dan pangan yang mengandung BKO.,” tutup Penny.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »