0 0
Read Time:1 Minute, 42 Second

OBATDIGITAL – Epilepsi jadi salah satu penyakit yang dapat merusak otak dan menyebabkan penurunan fungsi otak. Serangan tiba-tiba dan sulit diprediksi.

Berbagai cara terapi sudah diupayakan ahli. Salah satunya, peneliti menemukan bahwa video game dan virtual reality (VR) dapat membantu proses pemulihan otak bagi pasien epilepsi.

Tim Peneliti Multidisiplin dari Dell Medical School University of Texas, Amerika Serikat, menguji bagaimana video game dan VR dapat mempercepat proses pemulihan otak penderita epilepsi. Pasien epilepsi dapat kehilangan kontrol motorik sebagai efek samping pasca operasi.

Ini merupakan reaksi alamiah dari otak yang dikenal dengan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk memperbaiki jaringannya sebagai respon terhadap perubahan yang terjadi.

Profesor David Paydarfar dari Departemen Neurologi di Dell Medical School, mengatakan, sel neuron pada pasien epilepsi digunakan oleh otak untuk tujuan lain, sehingga ada fungsi yang tumpang tindih.

Dirinya ingin mengetahui apakah otak yang mengalami serangan epilepsi dapat dilatih untuk mengatur fungsi vital berkaitan dengan ingatan, ucapan, atau gerakan.

“Kami pikir akan sangat menarik untuk mempelajari masalah yang tidak hanya akan memajukan ilmu neuroplastisitas, tetapi juga akan menjadi sesuatu yang relevan bagi pasien,” ujar Paydarfar dikutip dari laman alcalde.texasexes.org (1/3/2022).

Video game dan VR sudah tidak asing lagi digunakan untuk melatih keterrampilan kognitif dan motorik baru.

Dalam studi ini, beberapa orang berusia 10 hingga 20 tahun yang akan menjalani operasi untuk pengobatan epilepsi diperintahkan untuk bermain game dalam jangka waktu tertentu.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan mesin Infinity yang dikembangkan oleh Blue Goji, perusahaan di bawah Coleman Fung, berbentuk treadmill yang dihubungkan dengan layar resolusi tinggi dan headset VR.

Mesin tersebut dilengkapi dengan berbagai sensor yang dibutuhkan untuk memantau aktivitas otak pasien.

Aktivitas bermain video game ini bertujuan mentransfer aktivitas otak normal dari saraf yang menyebabkan kejang. Otak dikondisikan untuk tetap menjalankan fungsi kognitif dan motorik meski terdapat gangguan pada saraf akibat epilepsi.

“Kami mencoba belajar dengan cara yang sangat tepat tentang satu kondisi, dan kemudian kami dapat mulai menerapkan pengetahuan itu ke kondisi lain,” umbuh Paydarfar.

HIngga kini, penelitian masih terus berlangsung. Diharapkan pada tahun ini akan diperoleh hasil gemilang dari eksperimen tersebut.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »