0 0
Read Time:2 Minute, 21 Second

OBATDIGITAL – Stunting kerap disamakan dengan perawakan anak yang bertubuh pendek. Faktanya, tidak semua anak yang tidak tinggi mengidap stunting. Tetapi, tahukah Anda, ada beberapa gejala stunting lainnya? 

Anak bertubuh pendek bisa disebabkan karena beberapa faktor, di antaranya faktor genetik, hormonal, psikososial, penyakit kronis, hingga kelainan lainnya. Penanganan yang terlambat akan menyebabkan anak sulit untuk tumbuh ideal sesuai dengan usianya. 

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo menjelaskan, penyebab langsung stunting adalah kekurangan gizi dan infeksi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan. Setidaknya ada tiga faktor penyebab utama stunting, yakni kerentanan pangan keluarga, pengasuhan dan praktik pemberian makan yang tidak adekuat, serta lingkungan rumah tangga yang tidak sehat. 

Pemerintah menargetkan laju penurunan stunting per tahun menuju 14% pada 2024 mendatang. Ada 7 provinsi yang menunjukkan tren peningkatan prevalensi balita stunting dalam kurun waktu 2019-2021, yaitu Kepulauan Riau, Jambi, Banten, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Barat. 

Lebih lanjut Hasto menyebut pola asuh yang kurang baik juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang dan pemberian gizi anak. Pola pikir dan pola asuh sangat mempengaruhi kesehatan dan nutrisi anak.

“Pola asuh ini penting sekali. Anak yang tidak happy, tentu tidak mau makan, sulit mendapat nutrisi yang baik,” papar Hasto dalam acara Perjanjian Kemitraan BKKBN dengan PT Merck Tbk secara virtual, (24/2/2022). 

Di kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Endokrin Anak, Prof. Madarina Julia menjelaskan, anak yang bertubuh pendek belum tentu stuntingFaktanya, anak yang stunting memang pasti bertubuh pendek karena adanya gangguan pertumbuhan, tapi tidak semua anak yang pendek itu pasti karena stunting. 

Julia melanjutkan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), istilah stunting merujuk pada gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang mengalami asupan nutrisi yang buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak adekuat. Sedangkan menurut UNICEF (United Nations Children’s Fund), stunting adalah kegagalan untuk mencapai potensi pertumbuhan karena asupan zat nutrisi yang tidak optimal dan sakit yang berulang. 

Orangtua perlu memahami indikator stunting pada anak. Tidak hanya soal tinggi tubuh yang termasuk kategori pendek, tetapi juga apakah ada gangguan perkembangan lainnya pada anak, baik perkembangan fisik maupun mental. 

“Untuk melakukan pemeriksaan, perlu diketahui, apakah anak tergolong pendek atau tidak, kurus atau tidak, lalu apakah ada gangguan perkembangan pada anak, seperti perkembangan kognisi, motorik, maupun keterampilan pada anak,” jelas Julia. 

Jika tidak ditangani secara cepat, anak yang mengalami stunting tidak hanya mengalami hambatan pertumbuhan dan gangguan kesehatan, tetapi juga gangguan lainnya dalam jangka panjang. Studi UNICEF 2021 menunjukkan, anak yang stunting prestasi pendidikannya buruk, lama pendidikan yang lebih rendah atau sekolah tidak tinggi (cenderung putus sekolah), dan pendapatan yang lebih rendah sebagai orang dewasa. 

Karenanya, sangat penting bagi orangtua untuk mengamati tumbuh kembang anak dan terus memantau nutrisi asupan setiap hari. Pola asuh yang baik juga dibutuhkan untuk mencegah anak dari risiko stunting. 

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »