Kementerian Kesehatan
0 0
Read Time:1 Minute, 31 Second

OBATDIGITAL – Di era digital, pengaturan sistem elektronik farmasi menjadi penting. Karenanya, Badan Litbang Kemenkes mencetuskan Penyelenggaraan SIstem Elektronik Farmasi (PSEF).PSEF merupakan badan hukum yang bertugas menyediakan, mengelola, serta mengoperasikan e-farmasi untuk keperluan sendiri atau pihak lain yang diatur dalam Permenkes.

PSEF dinilai dapat meminimalisasi penjualan obat ilegal yang kerap beredar di pasaran, khususnya yang diperjualbelikan secara daring.

Nantinya, platform kesehatan digital di Indonesia akan mendapatkan sertifikat PSEF untuk menjamin keamanan dan kualitas layanan kesehatan.

Salah satu yang sedang dalam proses mendapatkan sertifikasi PSEF ini yaitu Alodokter. President Director & Co Founder Alodokter, Suci Arumsari mengatakan, layanan kesehatan perlu mengikuti regulasi yang berlaku.

Sertifikasi PSEF merupakan bukti bahwa sebuah platform farmasi digital dapat menjalankan pelayanan farmasi berbasis internet yang sesuai dengan peraturan pemerintah.

“Digitalisasi telah memberikan kemudahan akses bagi masyarakat kepada obat-obatan, yang sepenuhnya harus diawasi agar tidak disalahgunakan,” ujar Suci dikutip dari situs medcom.id (20/1/2022).

Untuk mendapatkan sertifikat PSEF, platform kesehatan harus memiliki dua sertifikat terlebih dahulu, yaitu izin dari Kemenkes RI serta surat tanda Penyedia Sistem Elektronik (PSE) dari Kominfo.

Tidak hanya PSEF, inovasi di bidang kesehatan lainnya yang sedang diupayakan Kemenkes RI juga termasuk teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR). Kedua teknologi tersebut akan masuk dalam rencana jangka panjang pelayanan kesehatan dalam negeri.

Chief Digital Transformation Office Kemenkes, Setiaji, mengatakan kalau nantinya VR dan AR tidak hanya difokuskan untuk pendidikan nakes semata, tetapi juga untuk mendukung layanan teknologi kesehatan (health-tech).

“Keberadaan teknologi tersebut akan membuat pelayanan kesehatan lebih efektif dan efisien, serta bisa memperluas jangkauan layanan dan mengurangi mobilitas di saat pandemi,” jelas Setiaji dikutip dari teknologi.bisnis.com (23/1/2022).

Namun demikian, sejumlah pakar menilai teknologi VR dan AR baru bisa benar-benar optimal digunakan saat koneksi internet 5G sudah merata di Indonesia. Sedangkan saat ini, 5G belum menjangkau banyak wilayah.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »