Apotek Kimia Farma
0 0
Read Time:2 Minute, 7 Second

OBATDIGITAL – Memasuki tahun 2022, perusahaan farmasi Indonesia menerapkan beberapa strategi, mulai dari investasi hingga target untuk mengurangi ketergantungan impor Bahan Baku Obat (BBO).

Berikut ini strategi PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF).INAF rencananya tengah mempersiapkan investasi dengan nominal hingga Rp 199,86 miliar untuk mengurangi impor BBO. Hal ini memang sedang ditargetkan oleh Holding BUMN Farmasi.

Strategi mengurangi impor BBO dilakukan dengan mengoptimalkan peran masing-masing holding BUMN Farmasi, yakni PT Bio Farma dengan anak perusahaannya INAF dan KAEF. Sekretaris Perusahaan Indofarma, Wardjoko Sumedi, menegaskan investasi dilakukan untuk mengurangi impor.

“Perseroan melakukan investasi untuk mengurangi ketergantungan impor terhadap bahan baku obat dan alat kesehatan dengan nilai investasi sebesar Rp 199,86 miliar,” jelas Sumedi dilansir dari kontan.co.id (1/1/2022).

Investasi akan dialokasikan untuk pengadaan alat elektromedis dan furnitur rumah sakit, diagnosa in vitro, melakukan pengembangan ekstrak bahan-bahan alami atau natural extract, serta dukungan fungsional lainnya. Pihak perusahaan telah berkomitmen untuk berpartisipasi dalam program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN).

“Perseroan memanfaatkan sumber daya alam Indonesia untuk dikembangkan menjadi produk herbal berkualitas yang bisa digunakan sebagai obat,” imbuhnya.

Lebih lanjut, INAF juga akan meningkatkan angka Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) alat kesehatan dengan cara mengembangkan konten lokal untuk produk rakitan manufaktur dalam negeri, serta transfer teknologi agar manufaktur dari luar negeri bisa diterapkan dalam negeri.

INAF juga memfokuskan diri untuk mengembangkan produk herbal dan alat kesehatan.

“Dalam proses ini, kamu menghadapi tantangan pengembangan untuk menuju kemandirian industri farmasi dan alat kesehatan yang memerlukan waktu tidak singkat dan modal yang besar, serta kolaborasi dari berbagai pihak,” ucap Sumedi.

Sementara itu, KAEF telah melakukan strategi pemangkasan impor BBO sejak 2016 silam.

KAEF telah memproduksi beberapa BBO secara mandiri, di antaranya atorvastatin, rosuvastatin, entecavir, evafirens, lamivudine, clopidogrel, tenofovir, zidovudine, dan simvastatin yang telah menyabet sertifikasi halal MUI dan Good Manufacturing Practices (GMP) dari BPOM.

Sekretaris KAEF, Ganti Winarno menjelaskan, sebagai bagian dari holding BUMN Farmasi, pihaknya sudah mendirikan dan memproduksi BBO sejak tahun 2016 lalu. Ini dilakukan untuk mendukung program pemerintah.

“Hal ini sejalan dengan program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor BBO,” ujarnya dikutip dari kontan.co.id (31/12/2021).

Namun, Ganti tidak menginfokan nilai investasi yang disiapkan untuk strategi memangkas BBO.

KAEF akan melakukan berbagai program untuk mengembangkan molekul BBO. Pada 2024 mendatang diharapkan KAEF dapat berperan menurunkan impor BBO hingga 75%, dari 95%.

“Jadi ada beberapa tantangan dalam pengembangan industri BBO antara lain pemenuhan skala ekonomi atau economic of scale, peningkatan kompetensi SDM di bidang industri BBO, penguasaan teknologi BBO, dan kebijakan atau regulasi,” tutupnya.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »