Airlangga Hartarto
0 0
Read Time:1 Minute, 45 Second

OBATDIGITAL – Varian Omicron yang tengah melanda Indonesia di tengah pandemi COVID-19 tidak mematahkan harapan dan semangat ekonomi untuk tetap bertumbuh.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto cukup optimis perekonomian Indonesia akan bangkit kembali di 2022 mendatang.

Ia meyakini perekonomian di tahun 2022 dapat menembus pertumbuhan hingga 5,2% sesuai dengan target APBN 2022. Hal ini di antaranya disebabkan penanganan COVID-19 yang cukup baik.

“Saat kesehatan lebih resilience, kami melihat opportunityEkonomi Indonesia 2022 Diprediksi Meningkat, Ini Strategi BUMN Farmasi untuk mendorong perekonomian akan makin baik dan pemerintah akan optimis bahwa capaian di 2022 ini bisa mencapai sekitar 5,2%,” jelas Airlangga dilansir dari CNBC Indonesia, (27/12/2021).

Rasa optimis tersebut didukung percepatan vaksinasi dan persiapan prosis vaksin dosis ketiga di tahun 2022.

Pemerintah akan terus mendukung vaksin dosis ketiga, khususnya vaksin merah putih yang tengah digodok di Universitas Airlangga. Sementara itu, BUMN Farmasi juga tengah diperkuat untuk dapat menunjang kemandirian serta ketahanan di bidang kesehatan.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan rencananya terhadap holding BUMN farmasi agar dapat mengurangi impor bahan baku farmasi.

Erick mengatakan, ekosistem menjadi kunci sinergi antar lembaga. Bio Farma sebagai holding company diyakini dapat memperkuat ekosistem BUMN farmasi.

“Karena itu kami sudah berhasil menggabungkan Bio Farma sebagai holding company, membawahi Kimia Farma, Indofarma dan tentunya RS BUMN di bawah IHC dulunya Pertamina digabungkan dengan RS Pelni dan lain-lain,” jelasnya dilansir dari laman bisnis.com (27/12/2021).Bio Farma menurutnya tidak hanya berperan untuk konsolidasi, namun juga membuka peluang industri kesehatan yang baru seperti vaksinasi.

Selain itu, Erick juga akan memfokuskan PT Indo Farma Tbk (INAF) untuk merambah ke industri pengobatan herbal. Fokus peningkatan industri herbal ditengarai dapat mengurangi impor bahan baku farmasi. Pasalnya, saat ini bahan baku farmasi di Indonesia sebagian besar masih impor, bahkan hingga 95 persen.

Sedangkan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan difokuskan untuk mengembangkan obat-obatan generik. Hal ini bertujuan agar akses obat berkualitas dapat tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Obat generik ini disinergikan petrokimia Pertamina yang sedang membangun juga turunannya untuk bahan baku obat, salah satunya paracetamol, yang kalau tidak salah 3.800 ton per tahun bisa produksi sendiri,” tutupnya.

,

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »