naymuk malaria
0 0
Read Time:1 Minute, 36 Second

OBATDIGITAL – Malaria termasuk penyakit mematikan dan sulit disembuhkan. Setiap tahunnya, ada lebih dari 400.000 orang yang meninggal akibat malaria, dua pertiga di antaranya terjadi pada anak di bawah usia lima tahun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kawasan Afrika menyumbang 90% kasus malaria secara keseluruhan.

Obat-obat yang tersedia yang selama ini digunakan, sudah tidak mempan lagi seperti klorokuin.

Maka, sejumlah ilmuwan terus berusaha menemukan obat tradisional yang bisa mengobati penyakit malaria.

Salah satunya yang dilakukan apoteker asal Ethiopia dan Jerman. Mereka mempelajari khasiat tanaman Ranunculus multifidus, tanaman bunga berwarna kuning yang efektif atasi malaria, khususnya strain resisten klorokuin.

Tanaman obat sejenis bunga buttercup Ranunculus multifidus terbukti dapat meringankan gejala malaria di Afrika.

Di beberapa daerah, tanaman tersebut daunnya diseduh dan diminum seperti teh.Kandungan senyawa aktif anemonin dalam tanaman Ranunculus multifidus dapat meringankan gejala malaria dengan signifikan.

Hasil uji coba pada tikus menunjukkan, jenis parasit penyebab malaria pada hewan pengerat bisa dibasmi dengan ekstrak daun tanaman tersebut.

Peneliti dari Arba Minch University, Betelhem Sirak mengatakan, dalam uji coba, tikus diberikan parasit Plasmodium berghei penyebab malaria.

Eksperimen yang dilakukan sesuai dengan pedoman internasional itu memberikan hasil yang cukup menjanjikan.

Sedangkan Profesor Peter Imming dari Martin-Luther-University Halle-Wittenberg Jerman menjelaskan, ekstrak tanaman memang tidak bekerja sebaik klorokuin, tetapi tetap menghasilkan efek positif yang jelas selama proses penyembuhan.

“Tikus kehilangan berat badan secara signifikan lebih sedikit dan suhu tubuh mereka juga lebih stabil daripada yang tidak mendapatkan pengobatan,” ujar Imming dilansir dari laman TRT World, (23/12/2021).

Kandungan anemonin serupa dengan klorokuin, dapat mempengaruhi metabolisme parasit dalam tubuh. Beberapa parasit penyebab malaria ditemukan telah mengembangkan resistensi terhadap klorokuin, khususnya di Afrika Timur dan Barat.

Menurut Imming, anemonin berpotensi untuk menghindari resistensi pada parasit penyebab malaria. Lebih lanjut, anemonin juga berpotensi melawan dua spesies parasit leishmania dan schistosoma.

“Hasil yang diperoleh dalam penyelidikan ini menunjukkan bahwa anemonin memiliki potensi untuk digunakan sebagai template untuk merancang farmakofor antileishmanial dan antischistosomal baru,” tutupnya.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »