Kantor Eli Lilly
0 0
Read Time:1 Minute, 47 Second

OBATDIGITAL – Perusahaan farmasi Eli Lilly belum lama ini bergabung dengan perusahaan bioteknologi Verge Genomics asal San Francisco, Amerika Serikat. Mereka berkolaborasi untuk uji coba obat saraf menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Pendanaan yang digelontorkan mencapai angka US$ 98 juta, yang akan digunakan untuk penelitian menggunakan bioteknologi, khususnya untuk obat gangguan saraf Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) pada manusia.

Penyakit genetik ini bisa menyebabkan berbagai penyakit berkaitan dengan saraf, seperti demensia, parkinson, kelumpuhan supranuklear progresif, hingga skizofrenia.

Verge Genomics sebelumnya telah menggunakan kecerdasan buatan untuk menemukan target obat molekul kecil. Mereka memiliki database jaringan otak manusia dari pasien dengan gangguan neurodegeneratif.

Dengan bantuan kecerdasan buatan, Verge Genomics menemukan kandidat obat untuk ALS tersebut yang menargetkan protein lipid kinase, disebut dengan PIKfyve. Dengan pendanaan dari Eli Lilly, Verge Genomics akan meneliti lebih lanjut molekul yang berpotensi menjadi obat tersebut ke tahap uji klinis pada 2022 mendatang.

Dilansir dari laman Med City News (16/12/2021), kerja sama yang dilakukan oleh Verge Genomics dengan Eli Lilly selama musim panas ini mencakup perkembangan teknologi untuk memvalidasi target dari calon obat tersebut.

Eli Lilly dapat memilih untuk memajukan empat kandidat obat melalui pengembangan klinis dan komersialisasi. Apabila salah satu dari obat tersebut berhasil dipasarkan, Verge Genomics akan menerima pembayaran hingga US$ 694 juta.

Beberapa investor lain yang juga ikut mendanai Verge Genomics di antaranya Merck Global Health Innovation Fun, dan investor terkemuka di bidang farmasi lainnya.

Selain Verge Genomics, perusahaan bioteknologi lainnya juga tengah bersaing mengembangkan teknologi kecerdasan untuk pengobatan manusia.

Contohnya Tasso, perusahaan yang memproduksi perlengkapan medis berbasis di Washington, Amerika Serikat, tengah mengembangkan alat yang bisa digunakan oleh pasien di rumah untuk mengumpulkan sampel darah.

Pasalnya, selama pandemi COVID-19, permintaan alat-alat kesehatan yang dapat digunakan dengan mudah di rumah mengalami peningkatan. Aplikasi yang dikembangkan Tasso berfungsi melakukan uji klinis terdesentralisasi dan memantau pasien jarak jauh.

Ada juga Brainomix, perusahaan software asal Inggris, yang juga tengah membuat pemindai biomarker untuk membantu pengobatan dan diagnostik.

Teknologi ini sudah diterapkan untuk mendeteksi stroke di layanan kesehatan Eropa serta bebera negara lainnya.

Ke depan, ditargetkan Brainomix dapat mengembangkan teknologi untuk mendeteksi penyakit lainnya, seperti kanker dan fibrosis paru-paru.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »