Ibu bersama bayinya
0 0
Read Time:2 Minute, 13 Second

OBATDIGITAL – Penyakit jantung bawaan bisa terjadi pada siapa saja, karenanya penting untuk melakukan deteksi dini. Tidak hanya pada orang dewasa, deteksi dini penyakit jantung bawaan pada bayi juga perlu dilakukan. 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pentingnya deteksi dini penyakit jantung bawaan pada bayi untuk mencegah risiko kematian, khususnya saat melahirkan. Pasalnya, sebagian besar kasus kematian bayi pada minggu pertama di antaranya disebabkan karena faktor penyakit jantung bawaan. 

Ketua IDAI, Pimprim Basarah Yanuarso menjelaskan, 80% kasus kematian bayi pada enam hari pertama disebabkan karena kelainan kongenital. Penyakit jantung bawaan termasuk kelainan kongenital yang sering ditemukan pada bayi. 

“Kelainan kongenital adalah kelainan yang didapat sejak lahir menyumbang sekitar 7 persen kematian bayi. Di antara kelainan kongenital yang sering yaitu penyakit jantung bawaan,” ujar Yanuarso dalam agenda Media Briefing “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Pada Bayi Baru Lahir” di Jakarta (13/12/2021).

Yanuarso menjelaskan, bayi yang memiliki penyakit jantung bawaan kritis biasanya akan terlihat normal dan sehat saat lahir. Namun, bisa tiba-tiba mengalami perburukan secara drastis dan kemudian meninggal. 

Setidaknya, satu dari seratus bayi lahir mengalami sakit jantung bawaan. Sedangkan 25% mengalami sakit jantung bawaan kritis. Di tahun 2021, dalam kurun waktu Januari-Juni diperkirakan ada 3.766 bayi yang lahir dengan penyakit jantung bawaan di Indonesia. 

Sementara itu, Ketua Unit Kerja Koordinasi Naonatologi IDAI, Risma Kaban mengutarakan, bayi yang meninggal akibat kelainan kongenital seperti jantung bawaan termasuk peringkat kedua terbanyak di dunia. Peringkat pertama masih disebabkan oleh kasus kelahiran bayi prematur. 

Bayi yang meninggal karena penyakit jantung bawaan biasanya memiliki beberapa gejala, seperti kadar oksigen dalam tubuh yang berkurang. Hal tersebut ditandai dengan tarikan napas yang tidak teratur, mengalami sesak napas, dan kulit membiru. Jika dibiarkan, bisa terjadi penurunan kesadaran dan kematian. 

Risma menganjurkan bagi ibu hamil untuk skrining kesehatan pada bayi agar bisa dicegah sejak dini. Caranya dengan skrining di rumah sakit yang memiliki fasilitas tertentu. 

“Rekomendasinya adalah skrining pada bayi di fasilitas neonatal intensive care unit (NICU),” imbuh Risma. 

Proses skrining akan diawali dengan diagnosa kondisi bayi apabila terjadi kekurangan oksigen. Kadar oksigen di atas 95% tidak masalah, tetapi jika nadinya tidak teraba, harus dilakukan skrining darurat meskipun kadar oksigennya masih dalam batas normal. 

Risma menambahkan, skrining pada bayi di NICU sebaiknya dilakukan ketika bayi berusia 24-48 jam pasca kelahiran, kecuali yang telah melewati prosedur Echocardiografi (USG Jantung). Bayi yang menggunakan oksigen tambahan saat skrining, harus diperiksa untuk kedua kalinya kurang lebih 1-2 hari setelah pernapasannya normal kembali, atau ketika tidak menggunakan oksigen lagi.

“Kita harus lihat apakah respons bayinya bugar atau tidak, ada riwayat keluarga yang mirip atau tidak, belum boleh dipulangin dulu,” tutup Risma. 

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »