Vaksinasi pada remaja
0 0
Read Time:1 Minute, 44 Second

OBATDIGITAL – Vaksinasi COVID-19 per 9 Desember 2021 telah mencapai 8,1 miliar dosis yang diberikan di seluruh dunia. Namun, ternyata sebagian besar vaksin hanya sampai di negara-negara berpenghasilan tertinggi di dunia. 

Distribusi vaksin COVID-19 yang tidak merata masih menjadi masalah, khususnya bagi negara berpenghasilan rendah yang baru 8,35% saja menerima vaksin. Selain kendala logistik, biaya vaksin menjadi salah satu tantangan terbesar bagi negara berpenghasilan rendah yang memerlukan vaksin. 

Para ahli memperkirakan, negara-negara berpenghasilan rendah harus meningkatkan biaya perawatan kesehatan hingga 56,6%, sedangkan negara berpenghasilan tinggi cukup mengeluarkan 0,8% saja. 

Peneliti dari Universitas Aarhus Denmark, Andreas Brøgger Albertsen, baru-baru ini mengusulkan cara untuk mendistribusikan vaksin secara merata, yakni dengan pajak vaksin progresif. Pajak vaksin ini dimasukkan dalam biaya vaksin sesuai dengan kemampuan negara pembeli.

Menurutnya, pajak vaksin dapat memberikan solusi yang lebih jitu untuk pemerataan distribusi vaksin di seluruh dunia. Negara-negara berpenghasilan tinggi dapat membantu subsidi untuk negara lain yang berpenghasilan rendah. 

“Untuk setiap vaksin yang dibeli, sebagian kecil dari harga yang dibayarkan untuk vaksin disisihkan untuk menciptakan distribusi vaksin yang lebih adil,” jelas Albertsen dilansir dari Medical News Today, (12/12/2021).

Lebih lanjut Albertsen mengatakan, di bawah skema pajak vaksin, perusahaan penjual bertanggung jawab untuk mentransfer uang yang dikumpulkan untuk disalurkan ke Akses Global Vaksin COVID-19 atau COVAX. COVAX dapat menetapkan bahwa mereka hanya akan membeli vaksin dari perusahaan yang taat pajak. 

“Ini akan memberikan insentif bagi produsen vaksin untuk memperkenalkan dan mematuhi skema pajak vaksin dan tidak serta merta membuat COVAX lebih mahal untuk mendapatkan vaksin,” imbuhnya. 

Jumlah pajak vaksin yang merupakan persentase dari harga pembelian vaksin, harus disesuaikan dengan kemampuan negara pembeli. Negara-negara berpenghasilan rendah bisa terbebas dari pajak vaksin jika memang tidak mampu membayar. 

Selain itu, dengan adanya pajak vaksin, perusahaan pembuat vaksin juga dapat menerima insentif karena jaminan pembelian berkelanjutan oleh COVAX yang terikat pajak. Perusahaan akan memiliki daya tawar yang kuat. 

Harapannya, distribusi vaksin akan jauh lebih merata dengan diterapkannya pajak progresif. Mengingat, ketidakmerataan distribusi vaksin saat ini dinilai tidak etis. 

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »