Para Pembicara di Webinar Lung Talk
0 0
Read Time:2 Minute, 3 Second

OBATDIGITAL – Kanker paru masih menjadi salah satu jenis kanker yang paling mematikan di Indonesia. Angka kematian akibat kanker paru saat ini meningkat hingga 18%.

Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, kematian akibat kanker paru di Indonesia meningkat sebesar 18% menjadi 30.843 orang, dengan kasus baru mencapai 34.783 kasus. Selain itu, rata-rata pasien juga terdiagnosis kanker paru ketika kondisinya sudah stadium lanjut. 

Dokter Spesialis Paru Konsultan Onkologi dan Anggota Pokja Onkologi Toraks Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Sita Laksmi Andarini, mengatakan, kebiasaan merokok menjadi prevalensi yang semakin meningkat setiap tahunnya hingga 70%. Perokok aktif risikonya 13 kali lipat terkena kanker paru, sedangkan perokok pasif berisiko 4 kali lipat. 

“Selain itu, risiko tinggi lainnya bagi pekerja di pabrik kaca, pabrik semen, pabrik asbes,” tutur Sita dalam diskusi publik virtual #LungTalk Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) yang diikuti Obat Digital, (23/11/2021).

Karenanya, menurut Sita, penting untuk melakukan pencegahan dan skrining. Tindakan pencegahan atau preventif dilakukan dengan menjauhi rokok, melakukan skrining kanker paru, dan juga deteksi dini kanker paru bagi kelompok berisiko tinggi. 

Skrining dapat dilakukan pada usia dewasa dengan risiko tinggi, seperti ada riwayat merokok, perokok pasif, riwayat pekerjaan, riwayat genetik kanker, dan riwayat fibrosis paru. Sedangkan deteksi dini adalah upaya untuk mendeteksi kanker dalam stadium yang lebih dini, yaitu saat pasien mengalami beberapa gejala seperti batuk, batuk darah, sesak napas, dan nyeri dada. 

“Skrining dan deteksi dini dapat dilakukan melalui CT scan toraks dosis radiasi rendah (low-dose CT thorax),” imbuh dr. Sita. 

Meski begitu, akses pencegahan dan juga pengobatan bagi pasien kanker paru masih menghadapi berbagai tantangan. Pasalnya, tidak semua masyarakat dapat mengakses fasilitas kesehatan yang mumpuni untuk melakukan skrining maupun pengobatan kanker paru. 

Berdasarkan Laporan Keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan 2019, hanya 3% dana dari Jaminan Kesehatan Nasional telah dialokasikan untuk pengobatan kanker, termasuk kanker paru. Sehingga, tidak semua modalitas pengobatan kanker paru dapat diakses oleh pasien. 

Wakil Ketua PDPI Erlang Samoedro, mengatakan, memang tidak semua modalitas pengobatan masuk dalam skema pembiayaan JKN. Masyarakat khususnya di daerah masih kesulitan mengakses fasilitas kesehatan untuk pengobatan kanker paru. 

“Beberapa modalitas seperti kemoterapi, radioterapi, dan terapi target hanya ada di kota-kota besar saja, sehingga masyarakat di wilayah perifer akan kesulitan untuk mengaksesnya,” pungkas  Erlang. 

JKN hingga saat ini hanya menjamin pengobatan personalisasi bagi pasien kanker paru dengan mutasi EGFR positif. Padahal, hampir 60% pasien kanker paru memiliki mutasi EGFR negatif yang memerlukan pengobatan atau terapi yang lain, seperti imunoterapi, yang belum ditanggung JKN.

About Post Author

obatdigital

Obat Digital adalah startup yang menampilkan beberapa informasi seputar industri farmasi berikut bisnisnya, baik obat-obatan, herbal, vaksin, alat kesehatan. Situs web ini didirikan agar pengunjung lebih melek soal perkembangan dunia medis dan pemanfaatannya.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By obatdigital

Obat Digital adalah startup yang menampilkan beberapa informasi seputar industri farmasi berikut bisnisnya, baik obat-obatan, herbal, vaksin, alat kesehatan. Situs web ini didirikan agar pengunjung lebih melek soal perkembangan dunia medis dan pemanfaatannya.

Translate »