Kanker darah
0 0
Read Time:2 Minute, 9 Second

OBATDIGITAL – Kanker limfoma atau yang dikenal dengan kanker pada kelenjar getah bening termasuk salah satu penyakit mematikan. Limfoma menduduki peringkat ke-8 penyakit paling mematikan di dunia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Lugyanti Sukrisman, menjelaskan bahwa limfoma merupakan penyakit keganasan darah. Gejala limfoma juga bisa saja terjadi secara samar atau tidak spesifik.

“Biasanya pasien mengalami demam, banyak berkeringat terutama di malam hari, berat badan turun,” jelas dr. Lugy pada Webinar Gelar Sarasehan PKAT RSCM dalam rangka HUT RSCM Ke-102, (18/11/2021).

Selain itu, gejala lainnya yakni mudah merasa lelah serta adanya benjolan di bagian tubuh seperti leher, ketiak, atau selangkangan.

Baik limfoma hodgkin maupun non-hodgkin gejalanya bisa serupa. Bedanya, limfoma non-hodgkin umumnya ditandai dengan rasa nyeri di bagian dada, perut, dan tulang.

Tercatat, untuk limfoma jenis non-hodgkin setidaknya ada 544.352 kasus per tahun dan menduduki peringkat ke-12, sedangkan limfoma hodgkin sebanyak 83.087 kasus di peringkat ke-27.

Di Indonesia, limfoma ada di peringkat ke-7 penyakit yang mematikan dengan 17.313 kasus per tahunnya. Lalu, bagaimana cara pengobatannya?

Lugy memaparkan, pengobatan limfoma yang baik diawali dengan diagnosis yang tepat. Dokter akan mendiagnosis apakah limfoma tersebut jenis hodgkin atau non-hodgkin, dan apa saja karakteristiknya.

“Pengobatan utama kanker limfoma adalah kemoterapi, dan sebagian memerlukan radioterapi,” imbuh Lugy.

Ia melanjutkan, pada kasus tertentu atau jika terjadi kekambuhan, butuh transplantasi sumsung tulang.

Pasien juga membutuhkan pengobatan suportif seperti nutrisi, transfusi darah, rehabilitasi medik, dan terapi untuk mengatasi nyeri.

Di kesempatan yang sama, Konsultan Hematologi-Onkologi Pediatrik RSCM-FKUI, Hikari Ambara Sjakti, memaparkan, ada perbedaan signifikan limfoma yang terjadi pada orang dewasa dan anak-anak.

Pada orang dewasa, faktor gaya hidup dan lingkungan lebih dominan, sedangkan pada anak faktor paling dominan yaitu kelainan genetik yang didapat dari kedua orang tua.

“Kalau kita telusuri, pada anak sebagian besar ada riwayat penyakit kanker di keluarga,” jelas Hikari.

Ia menganjurkan anak-anak yang menderita limfoma agar mengonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang.

Kemudian, menghindari makanan yang tidak matang seperti sushi, telur setengah matang, dan semacamnya, karena sistem imun anak dengan limfoma yang lemah tidak akan dapat melawan bakteri dari makanan yang kurang matang.

Sedangkan untuk aktivitas fisik yang dianjurkan bagi penderita limfoma, Staf Pengajar KSM Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik RSCM-FKUI Divisi Rehabilitasi Pediatri, dr. Rizky Kusuma Wardhani, SpKFR (K) mengatakan sangat penting bergerak secara rutin untuk mencegah pasien limfoma mengalami imobilisasi.

Latihan fisik yang dapat dilakukan misalnya berjalan, bersepeda, dilakukan 3-5 kali seminggu dengan total durasi 150 menit.

“Tidak hanya menjaga kesehatan organ tubuh, aktivitas fisik juga berfungsi untuk melatih kekuatan serta kelenturan otot,” tutup dr. Rizky.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »