Kantor Roche
0 0
Read Time:2 Minute, 24 Second

OBATDIGITAL – Selama pandemi COVID-19, transformasi digital telah mengubah kehidupan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan. Keterbatasan ruang dan waktu tidak menjadi halangan bagi pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Berdasarkan data dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), kunjungan pasien non COVID-19 ke rumah sakit menurun drastis hingga 80 persen. Sementara itu, angka pengguna platform layanan kesehatan digital meningkat pesat hingga 70%.

Perusahaan farmasi Roche Indonesia bekerja sama dengan fasilitas pelayanan kesehatan dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem digital untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Salah satu caranya dengan membangun digitalisasi pelayanan di rumah sakit.

General Director Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Lies Dina Liastuti, mengungkapkan, pihak RSCM saat ini tengah membangun digitalisasi pelayanan, antara lain di bidang rawat jalan hingga antrian farmasi. Terobosan telekonsultasi RSCM juga dilakukan melalui platform SiapDok.

“Telekonsultasi SiapDok merupakan terobosan dengan memastikan kedaulatan data menjadikunci, semua pasien terhubung dengan rekam medik sehingga bisa dilakukan telusur oleh surveyor dan ditangani profesional oleh dokter yang memiliki SIP ataupun perawat, apoteker dan nakes lain di RS kami,” jelas Liastuti dalam webinar Plenary Hall Roche Fair 2021, (12/11/2021).

Selain di bidang administrasi, pelayanan kesehatan antara dokter dan pasien dalam platform telemedisin juga sangat membantu di masa pandemi COVID-19. Hal tersebut diutarakan oleh Head of Medical Good Doctor Technology Indonesia, d Adhiatma Gunawan.

“Telemedisin bisa membantu masyarakat mendapatkan askes layanan kesehatan di saat sedang terjadi overload capacity di rumah sakit, dan juga membantu masyarakat untuk lebih proaktif terhadap manajemen kesehatan dirinya,” jelas Gunawan.

Ekosistem digital diharapkan dapat berjalan beriringan dengan personalisasi layanan kesehatan.

Pasalnya, personalisasi layanan kesehatan (PHC) dapat membuka jalan akses pengobatan dan peningkatan kesehatan secara inklusif, dengan biaya yang relatif lebih rendah. Dengan perkembangan sains dan teknologi, PHC dapat membantu pengobatan pasien secara holistik, bahkan mendeteksi penyakit berbahaya sejak dini agar tindakan pencegahan bisa segera dilakukan.

Principal Research Fellow Eijkman Research Center for Molecular Biology, National Research and Innovation Agency, Profesor Herawati Sudoyo, menjelaskan bahwa 76% kematian di Indonesia tahun 2019 disebabkan oleh penyakit tidak menular.

Sebagian besar kasus penyakit tidak menular dapat ditangani dengan baik jika dideteksi sejak dini.

PHC merupakan salah satu faktor agar tindakan preventif dapat mencegah berkembangnya penyakit tidak menular pada pasien.

“Dengan mengikuti perkembangan ilmu hayati manusia, seperti genomik, didukung revolusi digital dalam sistem layanan kesehatan, akan memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana cara untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada seseorang dengan tepat,” ucap Herawati dalam webinar Plenary Hall Roche Fair 2021, (13/11/2021).

Lebih lanjut, Herawati melansir data dari Personalized Healthcare Index yang diterbitkan Future Proofing, bahwa Indonesia berada di peringkat ke-11 dari total 11 negara yang dinilai siap menerapkan PHC.

Kesiapan tersebut diukur dari 4 faktor kesiapan, yaitu informasi kesehatan, layanan kesehatan, teknologi yang dipersonalisasi, dan konteks kebijakan. Sejauh ini, pemerintah Indonesia telah merumuskan beberapa kebijakan terkait PHC khususnya secara digital.

Salah satu contohnya yakni beberapa platform kesehatan digital yang dapat diakses oleh masyarakat dengan biaya relatif terjangkau.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »