Sanofi
0 0
Read Time:1 Minute, 43 Second

OBATDIGITAL – Penyakit demam tifoid termasuk salah satu penyakit yang tidak boleh disepelekan. Penyakit yang akrab dikenal dengan istilah tifus ini mudah menginfeksi tubuh melalui makanan yang terkontaminasi bakteri Salmonella typhii.

Selama pandemi COVID-19, tercatat sebanyak 97% pengeluaran per bulan dialokasikan untuk layanan pesan antar makanan. Padahal, risiko terkena demam tifoid dari makanan yang dipesan secara daring ini bisa terbilang tinggi, karena tidak bisa dipastikan higienitasnya.

Secara global, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat mencatat ada 26 juta kasus demam tifoid per tahun, yang menyebabkan 215.000 kasus kematian.

Sedangkan di Indonesia, dikutip dari data Pedoman Pengendalian Demam Tifoid Kemenkes RI No. 364/MENKES/SK/V/2006, tiap 100.000 penduduk ada 51-148 kasus demam tifoid, yang menyebabkan 600 hingga 1.500 kasus kematian.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Suzy Maria, Sp.PD menjelaskan, demam tifoid yang bersifat endemi ini tidak boleh disepelekan.

Kasus demam tifoid di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Gejalanya pun bermacam-macam, bahkan demam tifoid bisa menginfeksi tanpa menimbulkan gejala.

Untuk gejala yang umum terlihat, di antaranya seperti demam yang meningkat secara bertahap setiap hari hingga mencapai 39-40 derajat Celcius, dan akan lebih tinggi pada malam hari.

Selain itu, adanya gejala nyeri otot, sakit kepala, badan terasa tidak enak, merasa lelah dan lemas, berkeringat, batuk kering, berat badan menurun, sakit perut, dan nafsu makan hilang.

Organ ginjal dan hati bisa membengkak, serta muncul ruam kulit berupa bintik-bintik kecil warna merah muda, dan merasa linglung.

“Pada anak-anak biasanya mengalami diare, sedangkan bagi orang dewasa mengalami konstipasi,” jelas Suzy dalam acara Peluncuran Kampanye #SantapAman Sanofi Pasteur Indonesia secara daring, (11/11/2021).

Lalu, bagaimana cara mencegah demam tifoid ini? Suzy menganjurkan untuk menjaga kebersihan pribadi, khususnya kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Selain itu, lakukan vaksinasi secara rutin setiap tiga tahun sekali.

Lebih lanjut Suzy mengatakan, vaksinasi demam tifoid berfungsi untuk mencegah penyakit demam tifoid, dan bisa diberikan sejak usia 2 tahun hingga usia dewasa dan lansia. Tiap dosis vaksinasi dapat memberikan perlindungan hingga tiga tahun.

“Sebaiknya, vaksin diulang setiap tiga tahun sekali,” tutupnya.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »