Vidjongtius, Dirut Kalbe Farma
0 0
Read Time:1 Minute, 40 Second

OBATDIGITAL – Di masa pandemi COVID-19, ketersediaan bahan baku obat di dalam negeri menjadi sebuah kendala tersendiri.

Direktur Utama PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Vidjongtius mengatakan, penting bagi Indonesia untuk mencapai kemandirian dalam memproduksi bahan baku obat-obatan.

Salah satunya, dengan cara kontribusi industri hulu bekerja sama dengan pihak lain.

Masih banyak industri farmasi yang menggantungkan produksi dari bahan baku obat negara lain, seperti Cina.

Anak usaha Kalbe Farma, PT Hexpharm Jaya Laboratories, misalnya, masih harus mengimpor bahan baku obat dari Cina hingga 70%.

Menurut Vidjongtius, salah satu cara untuk akselerasi kemandirian bahan baku obat yaitu dengan melakukan penelitian. Bekerja sama dengan penelitian di bidang kesehatan dan farmasi sangat perlu dilakukan.

“Biar cepat harus berkolaborasi dengan peneliti, entah itu dalam negeri atau luar negeri untuk menciptakan bahan baku yang memang bisa diproduksi secara lokal,” ujar Vidjongtius dalam acara Kompas 100 CEO Forum, dilansir dari Kontan.co.id, (10/11/2021).

Lebih lanjut Vidjongtius mengatakan, kesiapan teknologi juga tidak kalah penting dalam berinovasi menciptakan produk bahan baku obat. Kerja sama seluruh pihak sangat penting dilakukan, terutama di masa pandemi.

Saat ini, Kalbe Farma terus berusaha memenuhi permintaan obat dengan meningkatkan kapasitas produksi. Selain itu, bekerja sama dengan Bio Farma untuk memastikan ketersediaan vaksin.

Di forum yang sama, Kementerian Kesehatan mengatakan saat ini tengah menargetkan 10 bahan baku obat yang paling tinggi tingkat konsumsinya di Indonesia agar bisa diproduksi secara mandiri di tahun 2024 mendatang.

Plt Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Arianti Anaya menegaskan, pihaknya sudah menginventarisasi 10 molekul obat terbesar yang dibutuhkan untuk diproduksi dalam negeri.

Program kemandirian bahan baku obat termasuk dalam enam pilar transformasi kesehatan Kemenkes.

Enam pilar tersebut yaitu transformasi layanan primer, layanan rujukan, sistem ketahanan layanan kesehatan, sistem pembiayaan kesehatan, sistem sumber daya manusia, dan tak ketinggalan trasnformasi di bidang teknologi kesehatan. Semuanya butuh kerja sama dari berbagai pihak.

“Dan, itu semua melibatkan semua stakeholders, tinggal bagaimana kita membuat kolaborasi ekosistem yang baik di antara akademisi, pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat, untuk mencapai tujuan transformasi itu bersama-sama,” ujar Arianti.

,

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »