photo of citrus fruits beside banana
0 0
Read Time:2 Minute, 1 Second

OBATDIGITAL – Sebuah studi terbaru di India baru-baru mengungkapkan fakta menarik terkait dengan vitamin C. Vitamin C sebagai salah satu suplemen yang selalu direkomendasikan untuk penderita COVID-19, ternyata tidak memiliki efek signifikan dalam melawan virus tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh sekelompok epidemiologis dari New Delhi’s All India Institute of Medical Sciences (AIIMS) ini menggunakan metode meta-analisis dan tinjauan sistematis.

Dilansir dari laman Times of India, hasil penelitian tersebut menunjukkan terapi vitamin C tidak memberikan efek signifikan dalam mengurangi gejala berat pada pasien COVID-19.

Peneliti menyebutkan, tidak ada manfaat signifikan berdasarkan pengamatan analisis sub-kelompok berdasarkan dosis obat, cara konsumsi vitamin C (oral atau intravena), dan tingkat keparahan penyakit.

Para peneliti menganjurkan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi efek dari vitamin C. Studi tersebut telah diterbitkan secara daring di Elsevier Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews.

Lebih lanjut, dokter menjelaskan temuan penelitian menggaris bawahi peningkatan konsumsi suplemen vitamin C, yang dianggap dapat mencegah tertular dari virus COVID-19. Hal ini dianggap sebagai sebuah kesalahpahaman.

Chairman Fortis C-Doc, Dr Anoop Misra, mengatakan manfaat vitamin C sejak zaman Linus Pauling, ahli biokimia asal Amerika Serikat, penuh dengan ketidakpastian.

“Meskipun kategori meta-analisis menyebutkan vitamin C tidak signifikan mengatasi COVID-19, tidak mungkin diresepkan dokter dalam dosis yang besar,” jelas Misra dikutip dari Times of India (3/11/2021).

Vitamin C yang dikenal dengan asam askorbat, dikenal sebagai anti-inflamasi dan memiliki sifat penangkal radikal bebas.

Namun penelitian menunjukkan vitamin C tidak signifikan mengobati pasien COVID-19 kemungkinan dipengaruhi oleh jumlah dosis yang diberikan dan cara vitamin C tersebut dikonsumsi.

Chief Medical Officer (CMO) Jindal Naturecure Institute India, Dr Babina Nanda Kumar, mengatakan, ada banyak bukti yang menunjukkan pasien kritis terpapar COVID-19 yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit mengalami penurunan kadar plasma vitamin C. Hal ini menjelaskan mengapa sepertiga pasien COVID-19 di ICU memiliki kadar vitamin C yang rendah dalam tubuh mereka, seperti pasien lain yang mengalami defisiensi vitamin C.

Kumar menambahkan, meskipun konsumsi vitamin C per hari sebanyak 0,1 gram bisa menstabilkan kadar plasma dalam tubuh orang yang sehat, bagi pasien yang sedang kritis butuh dosis vitamin C lebih tinggi, sekitar 2 sampai 3 gram sehari, untuk meningkatkan kadar plasma vitamin C tersebut ke level normal.

“Maka dari itu, tampaknya masuk akal untuk mengidentifikasi kadar plasma vitamin C pada pasien ICU, dan memberikan dosis vitamin C tambahan bagi mereka yang kadar plasmanya rendah,” tutup Kumar.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »