Kantor Roche
0 0
Read Time:2 Minute, 27 Second

OBATDIGITAL – Roche Indonesia bekerja sama dengan platform digital Docquity baru saja meluncurkan Breast Cancer Experts Network (BCEN). Jejaring digital ahli onkologi pertama di Asia Tenggara ini membantu dokter ahli onkologi untuk menangani pasien kanker payudara, khususnya bagi dokter di daerah terpencil yang masih kesulitan akses informasi dan edukasi.

Berdasarkan data tahun 2021, jumlah ahli onkologi di Indonesia masih sangat minim. Hanya ada sekitar 217 orang spesialis bedah onkologi di 28 provinsi, dan 139 orang spesialis hematologi onkologi medik di 17 provinsi.

Tentunya jumlah ini tidak memadai untuk penatalaksanaan pengobatan pasien kanker payudara, khususnya yang sulit mendapatkan akses fasilitas kesehatan di kota besar.

Sub Koordinator Evaluasi RS Pendidikan Kementerian Kesehatan, dr. Wiwi Ambarwati mengatakan, tantangan utama dalam penyediaan sumber daya manusia di Indonesia yaitu jumlahnya yang terbilang kurang, kualitas, serta distribusinya yang belum merata. Kemenkes memiliki beberapa strategi untuk pemerataan kapasitas tenaga medis, khususnya dokter ahli onkologi.

“Antara lain memanfaatkan pelayanan kesehatan digital seperti telemedisin, rekam medis elektronik, serta regulasi pelayanan kesehatan digital,” jelas Wiwi dalam Webinar Peluncuran BCEN, (2/11/2021).

Karenanya, kehadiran BCEN sebagai jejaring digital ahli onkologi nasional dapat membantu para dokter untuk bertukar data dan informasi, sekaligus sarana edukasi khususnya untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara. Pasalnya, berdasarkan data Instalasi Deteksi Dini RS Kanker Dharmais, sebanyak 70% pasien terdiagnosis kanker payudara datang dalam kondisi stadium lanjut 3B.

Hal ini menyebabkan tingginya angka kematian serta sulitnya meningkatkan kesintasan pasien. Spesialis Bedah Onkologi dari Kota Kecamatan Tenggarong, Kalimantan Timur, dr. Muhammad, Sp.B (K)Onk mengungkapkan kendala-kendala saat menangani pasien kanker payudara di daerahnya. Jarak yang cukup jauh menyebabkan pasien kesulitan. Dengan adanya BCEN, Ia merasa terbantu untuk menangani pasien karena bisa upgrade ilmu.

“Saya merasa sangat terbantu sekali, update ilmu sangat penting terutama untuk menangani pasien secara holistik, terutama bagi kami dokter di daerah yang harus selalu mengikuti update. Kita bisa menerapkan ilmu yang didapat dari BCEN kepada pasien,” ungkap Muhammad.

Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi terkait dengan kurangnya sarana dan prasarana di daerah terpencil, serta obat-obatan yang mahal namun tidak ditanggung oleh BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Muhammad berharap pemerintah serta pemangku kepentingan dapat mendiskusikan bersama untuk mencari jalan keluarnya.

“Di daerah itu sulit sekali, saya beberapa kali mengalami pasien sudah dilayani dengan tindakan maksimal, namun mereka membutuhkan obat-obatan mahal yang tidak termasuk dalam JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), itu yang harus disiasati,” imbuhnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Onkologi-Hematologi Medik dari Semarang, dr. Eko Adhi Pangarsa, Sp.PD-KHOM juga mengungkapkan hambatan yang dihadapi saat menangani pasien kanker payudara di daerah, khususnya kota-kota kecil di Jawa Tengah yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan di Semarang.

Selain minimnya deteksi dini pasien yang datang saat stadium lanjut sehingga tingkat kesembuhan menurun, ada juga keterbatasan akses pengobatan BPJS Kesehatan, dan minimnya akses pelayanan.

“Contoh pasien kanker tidak hanya dari Semarang, misal dari daerah remote lain di Jawa Tengah, pasien kanker ini butuh perawatan berulang, ada kendala biaya lain seperti transportasi,” tutup Eko.

,

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »