Kantor Merck
0 0
Read Time:1 Minute, 57 Second

OBATDIGITAL – Molnupiravir, obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Merck yang bekerja sama dengan Ridgeback Biotherapeutics telah resmi memasuki masa tinjauan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Eropa atau European Medicines Agency (EMA).

Obat antivirus oral tersebut sedang ditinjau untuk mengobati COVID-19 pada pasien dewasa.

Dikutip dari situs Business Wire, pihak Merck akan bekerja sama dengan Committee for Medicinal Products for Human Use (CHMP), komite yang menjadi bagian dari EMA, untuk meninjau aplikasi otorisasi pemasaran.

Sebelumnya, Merck telah mengajukan permohonan izin penggunaan darurat (EUA) ke Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), serta instansi terkait lainnya.

Wakil Presiden Eksekutif Merck sekaligus Presiden Laboratorium Riset Merck, Dr. Dean Y. Li, mengatakan bahwa pihak perusahaan percaya Molnupiravir akan menjadi salah satu obat tambahan yang penting untuk melawan pandemi COVID-19.

Obat tersebut bisa berdampingan dengan vaksin yang dikembangkan oleh industri farmasi, sebagai garda depan dalam mengatasi penyebaran virus.

“Aplikasi ke EMA ini merupakan langkah lain dalam upaya kami untuk membawa molnupiravir ke depan pasien secara global,” jelas Li dikutip dari Business Wire (25/10/2021).

Pengajuan yang dilakukan oleh Merck ke pihak EMA berdasarkan hasil uji klinis fase 3 yang disebut MOVe-OUT. Hasil positif uji klinis ketiga tersebut menyebutkan Molnupiravir dengan dosis 800 mg diminum dua kali sehari oleh pasien COVID-19 gejala ringan hingga sedang, dapat mengurangi risiko rawat inap di rumah sakit atau risiko berkembang menjadi gejala berat hingga 50%.

Dalam kesempatan yang sama, CEO Ridgeback Biotherapeutics, Wendy Holman menuturkan, dalam dua tahun terakhir sejak kemunculan COVID-19, komunitas ilmiah global telah mengembangkan vaksin dan perawatan kesehatan yang penting.

Namun, kehadiran obat antivirus oral yang dapat diminum oleh pasien yang berada di rumah juga tidak kalah penting.

“Kami percaya bahwa Molnupiravir, dengan temuan menarik tentang pengurangan rawat inap dan kematian dalam studi MOVe-OUT, dapat membantu memenuhi kebutuhan itu dan berharap dapat bekerja sama dengan EMA dalam peninjauannya,” pungkas Holman.

Sampai saat ini, Merck telah berencana untuk memproduksi Molnupiravir hingga 10 juta dosis pengobatan pada akhir tahun 2021, dengan estimasi jumlah yang semakin meningkat di tahun 2022 mendatang.

Merck juga telah menandatangani perjanjian pengadaan obat dengan pemerintah Amerika Serikat untuk 1,7 juta paket pengobatan Molnupiravir.

Merck juga telah menandatangani perjanjian lisensi non-eksklusif Molnupiravir dengan perusahaan farmasi generik India. Hal ini dilakukan untuk mempercepat ketersediaan Molnupiravir ke lebih 100 negara berpenghasilan rendah dan menengah.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »