0 0
Read Time:1 Minute, 33 Second

OBATDIGITAL – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan rekomendasi terbaru pada (11/10/2021) untuk memberikan tambahan vaksin COVID-19, khusus bagi orang dengan gangguan imun atau yang disebut immunocompromised.

Keputusan WHO tersebut berdasarkan adanya kekhawatiran risiko penularan yang lebih tinggi setelah dilakukan vaksinasi dua dosis standar.

Direktur Vaksin WHO, Kate O’Brien mengatakan, dosis tambahan vaksinasi tersebut dilakukan karena orang dengan gangguan imun tubuh cenderung tidak merespon vaksinasi dua dosis standar secara memadai. Mereka lebih berisiko terpapar COVID-19 yang lebih parah.

“Rekomendasinya adalah untuk vaksinasi ketiga, vaksinasi tambahan dalam seri primer dan lagi yang didasarkan pada bukti yang menunjukkan bahwa imunogenisitas dan bukti tentang infeksi terobosan sangat tidak proporsional diwakili oleh orang-orang itu,” jelas O’Brien dikutip dari Reuters, (12/10/2021).

Kelompok Ahli Penasihat Strategis WHO juga menganjurkan lansia 60 tahun ke atas untuk mendapatkan dosis vaksinasi tambahan yang dibuat oleh Sinopharm, dengan jangka waktu satu hingga tingga bulan setelah vaksin kedua.

Pasalnya, penelitian di Amerika Latin menunjukkan bahwa vaksin Sinovac produksi Sinopharm tersebut cenderung menurun efektivitasnya dari waktu ke waktu.

Lebih lanjut, O’Brien menuturkan para ahli independen pembuat kebijakan akan meninjau ulang terkait vaksin COVID-19 booster ini pada pertemuan 11 November 2021 mendatang.

Beberapa agenda yang akan dibahas antara lain varian virus COVID-19 dan kekebalan tubuh yang menurun. Data dari WHO menyebutkan, hingga saat ini tercatat 3,5 miliar vaksin COVID-19 yang telah diberikan kepada masyarakat dunia secara keseluruhan.

WHO memperkirakan ada sebanyak 1,5 miliar dosis vaksin tersedia setiap bulannya secara global. Jumlah tersebut memadai untuk memenuhi 40% target vaksinasi dari populasi masing-masing negara pada akhir tahun 2021.

“Memberikan dosis booster itu kepada individu yang telah mendapat manfaat dari respons primer seperti mengenakan dua jaket pelampung pada seseorang dan membiarkan orang lain tanpa jaket pelampung. Dalam hal ini kita berbicara tentang mendapatkan jaket pelampung pertama ke orang-orang yang memiliki kondisi gangguan imun,” tutup O’Brien.

,

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »