0 0
Read Time:2 Minute, 34 Second

OBATDIGITAL – Kanker payudara saat ini masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat di seluruh dunia. Banyaknya kasus kematian serta diagnosa kanker payudara stadium lanjut menjadi tantangan tersendiri bagi kesintasan pasien.

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga akhir 2020, sebanyak 7,8 juta perempuan didiagnosis menderita kanker payudara dalam 5 tahun terakhir. Selain itu, ada 685.000 angka kematian secara global.

Menyambut bulan peduli kanker payudara pada bulan Oktober, penting untuk mengetahui mitos-mitos apa saja seputar kanker payudara yang tidak benar adanya. Selama ini, adanya mitos anggapan masyarakat yang paling kental terkait kanker payudara salah satunya harus operasi angkat payudara jika ditemukan benjolan, padahal belum tentu benar.

Spesialis Bedah Onkologi, dr. Farida Briani Sobri, SpB(K)Onk., menuturkan adanya kesalahpahaman mengenai kanker payudara, khususnya terkait pemeriksaan biopsi yang sangat umum di masyarakat. Ia mengatakan, biasanya ada anggapan bahwa seseorang yang terkena payudara dan ditemukan benjolan maka tindakan pemeriksaan biopsi bisa memperparah kondisi kanker yang diderita.

“Semua tergantung jenis tumornya. Kalau memang tumornya jinak, akan tetap jinak setelah dibiopsi. Kalau tumornya ganas, setelah dibiopsi dokter akan memperoleh informasi bagaimana menangani pasien dengan tepat,” jelas Farida pada diskusi virtual kanker payudara “Bersama Melangkah, Meraih Harapan” yang diselenggarakan oleh The Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) (2/10/2021).

Lebih lanjut Farida menjelaskan, pasien kanker payudara pun tak perlu khawatir tidak bisa mempertahankan bentuk payudara saat terkena kanker. Pasalnya, saat ini pengobatan kanker payudara semakin beragam dengan teknologi mutakhir, sehingga tidak selalu harus dilakukan mastektomi atau pengangkatan seluruh bagian payudara. Kalaupun harus dilakukan akibat jenis kanker invasif, masih ada alternatif pilihan rekonstruksi payudara dengan implan silikon atau jaringan tubuh pasien itu sendiri. 

Spesialis Penyakit Dalam Hemato Onkologi Medik, dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM., turut menuturkan mitos lain seputar pengobatan kanker payudara. Tidak benar jika divonis kanker payudara maka harus dikemoterapi. Ada berbagai pilihan pengobatan lainnya yang disesuaikan dengan jenis tumor dan kondisi masing-masing pasien, seperti di antaranya  terapi hormonal, terapi target, dan imunoterapi. 

“Kanker payudara memiliki modalitas pengobatan yang paling lengkap. Kanker payudara sangat berbeda penanganannya tergantung berbagai faktor, misalnya subtipe, stadium, kondisi dan preferensi pasien, serta mutasi gen,” papar Jeffry.

Sementara itu, mitos bahwa penderita kanker payudara tidak bisa divaksin COVID-19 belum benar adanya. Ia menjelaskan, boleh atau tidaknya pasien kanker payudara mendapatkan vaksin COVID-19 tergantung pada banyak faktor, di antaranya seperti jenis vaksin, kondisi umum pasien, terapi kanker yang sedang dijalani serta dosis terakhir terapi kanker. 

Jeffry memaparkan, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) merekomendasikan individu usia 18-59 tahun dengan kanker solid layak untuk divaksin COVID-19 tetapi perlu ditentukan oleh dokter ahli, sedangkan pada mereka yang berusia 60 tahun ke atas layak divaksin COVID-19 apabila memenuhi rekomendasi umum. Karena setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda-beda, sebaiknya  diskusikan dengan dokter sebelum memutuskan.

“Tidak ada halangan untuk vaksin COVID-19 bagi pasien kanker payudara. Pertanyaannya, vaksinnya akan efektif atau tidak? Belum ada penelitian lebih lanjut, baru akan ada penelitian vaksin COVID-19 AstraZeneca (untuk pasien kanker) di tahun 2022 mendatang,” tutupnya.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »