0 0
Read Time:1 Minute, 52 Second

OBATDIGITAL – Beberapa waktu yang lalu, sempat beredar adanya anggapan bahwa vaksin COVID-19 menjadi penyebab penyakit stroke, atau pecahnya pembuluh darah di otak. Hal ini jelas hoax, dan masyarakat perlu mengetahui fakta-fakta seputar stroke. 

Direktur RS Pusat Otak Nasional, Mursyid Bustami, memberikan edukasi serta konfirmasi bahwa kabar vaksin COVID-19 menyebabkan efek samping stroke adalah tidak benar. Pasalnya, sampai saat ini belum ada bukti ilmiah keterkaitan antara vaksin COVID-19 dengan penyebab pembuluh darah pecah. 

‘”Terkait adanya info bahwa vaksin berisiko menyebabkan stroke pendarahan otak, kami klarifikasi bahwa secara ilmiah pun tidak ada hubungan antara stroke pendarahan dengan vaksin COVID-19,” papar Bustami dalam keterangan pers situs Kementerian Kesehatan, dikutip dari IDN Times, (29/9/2021).

Lebih lanjut Bustami menjelaskan, efek samping vaksin COVID-19 tergolong sangat ringan dan mudah diatasi, seperti di antaranya mengalami nyeri atau pegal, demam, lapar dan cenderung mengantuk. Efek samping pun hanya berlangsung paling lama 2 hari setelah divaksin. 

Faktanya, 20% penyebab penyakit stroke disebabkan karena terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah di otak. Faktor utamanya karena beberapa risiko lain, seperti adanya penyakit bawaan diabetes, hipertensi, obesitas, atau pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, minum alkohol, serta konsumsi narkotika. 

“Kalau stroke pendarahan biasanya dialami penderita hipertensi. Yang terjadi adalah tidak kuatnya pembuluh darah menahan tekanan darah yang tinggi, sehingga terjadilah kebocoran,” imbuh Bustami.

Selain itu, ada dua faktor risiko, yakni risiko yang terkendali serta risiko yang tidak terkendali. Faktor risiko terkendali harus bisa dicegah sejak dini agar tidak memperparah kemungkinan terjadinya stroke. Caranya, lagi-lagi tidak jauh dari gaya hidup sehat dan batasi konsumsi makanan yang tinggi kandungan garam, gula, dan lemak yang dapat memicu penyumbatan pembuluh darah.

“Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah mulai menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Tidak melakukan aktivitas yang dapat menimbulkan masalah kesehatan di masa depan seperti merokok, konsumsi minuman beralkohol, batasi konsumsi gula, garam dan lemak,” jelas Bustami.

Sedangkan risiko yang tidak terkendali, di antaranya faktor genetik, jenis kelamin, serta usia, harus bisa terkontrol dengan memeriksakan kesehatan secara rutin. Bustami menegaskan pentingnya cek kesehatan untuk mengetahui adanya riwayat penyakit atau kelainan dalam tubuh yang bisa diantisipasi sejak awal. 

‘”Untuk mengetahui itu, maka dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari faktor risiko sehingga bisa kita kendalikan secepatnya,” tutupnya.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »