Pasien kanker yang dikemoterapi
0 0
Read Time:2 Minute, 7 Second
Pasien kanker yang dikemoterapi
Pasien kanker yang dikemoterapi

OBATDIGITAL – Penggunaan obat-obatan personal yang disebut juga personalized medicine atau precision medicine (PM) ternyata bisa lebih efektif mengobati penyakit tiap pasien secara spesifik, khususnya bagi pasien yang memiliki profil genetika yang cukup kompleks.

Seorang profesor sekaligus dosen di Universitas Diponegoro, Prof DR Sultana MH Faradz PAK, PhD., mencetuskan pemikiran terkait pengobatan presisi ini.

Prof Sultana bersama timnya mengusulkan penelitian untuk penggunaan obat-obatan personal (personal medicine) saat diwawancarai oleh majalah Australia Indonesia Association Vivtorian (AIAV) News.

Ia menegaskan, obat-obatan personal tersebut bisa memudahkan dokter dalam memahami pengobatan ideal pasien berdasarkan komponen DNA (asam deoksiribonukleat) mereka.

“(PM) Ini sangat penting dilakukan untuk mengatasi persoalan terkait gejala penyakit yang disebabkan faktor genetika yang semakin kompleks di masa mendatang bagi masyarakat,” kata Prof Sultana dikutip dari situs resmi Universitas Diponegoro, (6/9/2021).

Dilansir dari situs Biomedcentral, Konsorsium Internasional untuk Personalized Medicine (ICPerMed) menyebutkan PM berfungsi sebagai praktik medis yang berpusat pada karakteristik individu, yang dapat meningkatkan efektivitas diagnostik.

Selain itu dapat menjadi metode pengobatan serta pencegahan berbagai penyakit, nilai tambah ekonomi, serta pemerataan akses bagi seluruh warga negara yang bersifat inklusif. 

Sistem perawatan kesehatan PM tersebut akan disesuaikan dan dioptimalisasi untuk kebutuhan tiap pasien. Meski di Indonesia belum begitu populer, saat ini peluang pasar PM di Asia diprediksi akan meningkat sebesar 15% di tahun 2023 mendatang. 

Contohnya perusahaan farmasi asal Singapura, Aslan Pharmaceuticals, yang telah mengaplikasikan teknik pengobatan presisi (PM) untuk meneliti penyakit saluran empedu dan kanker lambung. Beberapa perusahaan farmasi terkemuka seperti AstraZeneca dan Roche juga mengembangkan penelitian PM untuk mutasi sel penyebab kanker paru-paru pada perempuan Asia. 

Prof Sultana pertama kali tertarik mendalami genetika saat bekerja dengan kelompok disabilitas intelektual anak-anak. Dirinya mempelajari konseling genetik untuk mengedukasi pasian dan keluarga terkait dengan informasi tentang down syndrome yang rentan menurun secara genetik.

Penulis buku “Mengenal Sindrom Down: panduan untuk orang tua dan profesional” tersebut meyakini bahwa pemberian informasi dan edukasi yang tepat terkait penyakit genetika dan pengobatannya akan dapat membantu banyak keluarga, khususnya dalam mencegah penyakit genetik.

Ada solusi yang bisa ditawarkan oleh teknologi yang sedang dikembangkan. Saat ini Prof Sultana tengah mempelajari gangguan diferensiasi seks di Australia agar bisa menerapkan ilmunya di Indonesia.

“Inilah sebabnya mengapa belajar adalah pembelajaran sepanjang hayat. Semua pekerjaan ini telah membawa saya untuk mempelajari gangguan diferensiasi seks, juga dikenal sebagai alat kelamin yang ambigu. Sampai saat ini saya masih riset dengan MCRI/Royal Children’s Hospital, Australia. Saya bisa melakukan ini karena Australia kaya dana dan peralatan canggih, sedangkan Indonesia banyak kasus,” pungkasnya.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »