Pemeriksaan paru pada pasien TB
0 0
Read Time:2 Minute, 19 Second
black and white abstract painting
Foto paru dari pemindaian sinar X (Photo by cottonbro on Pexels.com)

OBATDIGITAL – Penyakit paru-paru tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit serius yang dapat menyebar dengan mudah melalui udara. Tercatat setiap tahunnya, TBC memakan korban hingga jutaan orang, terlebih di masa pandemi COVID-19 saat ini. Indonesia menduduki peringkat kedua dalam hal jumlah penderitanya di dunia, di bawah India.

Biasanya, TBC dikenal sebagai penyakit dengan pengobatan jangka panjang. Pasien TBC harus rutin meminum obat khusus yang berkisar dari 6 bulan hingga setahun lamanya. Bila lupa sehari saja, pasien harus mengulang lagi. Ini membuat bakterinya jadi resisten terhadap obat-obatan.

Namun kabar gembira datang dari Amerika Serikat (AS). Sebuah studi terbaru dari University of California San Francisco (UCSF) AS menemukan bahwa kombinasi antibiotik yang lebih kuat komposisinya ternyata dapat mempersingkat durasi pengobatan TBC. Hasil penelitian tersebut telah diterbitkan pada (6/5/2021) lalu di New England Journal of Medicine.

Peneliti sekaligus pengajar di Fakultas Farmasi UCSF, Rada Savic, PhD., mengatakan bahwa pengobatan TBC biasanya memakan waktu 6 bulan lamanya. Pengobatan pun biasanya menimbulkan komplikasi. Ia optimis akan temuan penelitian terbaru ini yang bisa mempermudah serta mempersingkat waktu pengobatan bagi pasien TBC.

“Seluruh proses pengembangan obat telah difokuskan selama 40 tahun untuk mencoba mempersingkat (pengobatan TBC), banyak percobaan telah gagal, dan ini adalah keberhasilan pertama,” ujar Savic dilansir dari situs pharmacy. UCSF.edu, situs milik Universitas California itu (30/8/2021).

Pengobatan TBC sudah dirancang sejak tahun 1970 dengan menggunakan rejimen 6 bulan dari obat antibiotik rifampisin. Sementara itu, TBC termasuk penyakit membandel karena bakterinya sangat mudah berkembang biak meski sudah diatasi dengan antibiotik, dan banyak pasien tetap mengalami gejala TBC selama bertahun-tahun meski sudah diobati.

Setelah rifampisin, obat TBC berikutnya yang diklaim lebih ampuh adalah rifapentine. Namun, belum ada yang benar-benar efektif bagi penderita TBC.

Penelitian dilakukan dengan uji coba selama 18 bulan lamanya, dengan melibatkan 2.516 pasien TBC yang terdaftar di 34 lokasi berbeda di berbagai benua. Hasilnya, diperoleh data bahwa rejimen empat bulan dengan komposisi  rifapentin dosis tinggi yang dikonsumsi bersamaan dengan moksifloksasin terbukti aman dan lebih efektif daripada rejimen sebelumnya yang memakan waktu hingga 6 bulan. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi dukungan penuh terhadap rejimen hasil penelitian UCSF ini. Dalam rilisnya pada bulan Juni 2021 lalu, WHO menuliskan bahwa rejimen 4 bulan yang lebih efektif ini akan menjadi menjadi pilihan bagi banyak pasien termasuk dalam program penanganan TBC nasional. Rejimen ini memungkinkan penyembuhan pasien TBC yang lebih cepat dan mengurangi beban sistem perawatan kesehatan.

“Kami ingin menggunakan rejimen yang sama, dengan obat yang sama, dan memberikannya hanya selama dua bulan pada pasien yang mudah diobati yang dapat diidentifikasi dengan tes lapangan sederhana. Kami memiliki bukti bahwa ini akan berhasil, dan kami sedang mengerjakan babak baru uji klinis, mengumpulkan kolaborator kami lagi,” imbuh Savic.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »