0 0
Read Time:6 Minute, 58 Second
Mahkota Medical Centre (Dok: MHI Group)

OBATDIGITAL – Tony Siahaan dan istrinya sudah memiliki langganan berobat di Malaysia. Di Rumah Sakit Aventis, Penang, laki-laki berusia 58 tahun ini selalu memeriksakan kesehatannya di sana. “Sejak 2010 istri saya sudah rajin ke sana, sedangkan saya baru ke sana pada 2019,” ujarnya.

Warga Jakarta ini mendapat kesan manis selama berobat di rumah sakit di sana. “Istri saya selalu ke sana bila ada keluhan yang mengganggu aktivitas kesehariannya. Itulah yang membuat dirinya tertarik menjajalnya,” kata ayah dua anak.

Ketika datag pertama kali ke Penang, Tony hanya ingin melakukan medical check up. Setelah mendaftar lewat daring lewat situs rumah sakit tersebut, ia ditanya perihal keluhannya. Setelah menjawab lengkap pertanyaan yang disodorkan lewat online itu, Tony diminta datang ke Malaysia pada tanggal yang ditentukan dan sehari sebelum jadwal pemeriksaan.

Seperti yang dijanjikan pada bulan September 2019. Sempat menginap di salah satu hotel di Penang, keesokan harinya ia datang ke Aventis pagi hari. Di sana ia langsung menjalani pemeriksaan dan pengambilan darah, urin, pemeriksaan dengan magentic resonance imaging, dan sebagainya. “Sejak jam delapan saya sudah ke sana,” katanya kepada OBATDIGITAL, belum lama ini.

Usai diperiksa dan sambil menunggu hasil pemeriksaan, ia diminta menghubungi satu per satu dokter sesuai dengan urutannya. Dokter rupanya sangat wellcome dan mengenal namanya, sehingga Tony merasa sudah berobat berkali-kali. Dokter rupanya sudah mengetahui kondisi kesehatannya berdasarkan data yang diisi sewaktu pendaftaran daring. Setelah satu dokter beres, mereka diantar ke dokter lainnya.

Sekitar jam 3.00 sore waktu setempat ia mendapatkan hasil pemeriksaan lengkap berikut saran-saran yang perlu diikuti Tony. “Saya diminta menurunkan berat badan dengan mengatur diet sehat,” tutur Tony.

Tony bilang dalam pelayanan kesehatan di banyak rumah sakit di Malaysia, pasien seperti dimanja dan merasa seperti di rumah sendiri, padahal rumah sakitnya tidak terlalu mewah dibandingkan rumah-rumah sakit mewah di Jakarta. “Biaya pengobatannya pun murah, ngga beda jauh dengan tarif check-up di sini,” ujarnya.

Selain itu, bila ada keinginan pasien untuk menjalani pemeriksaan tambahan, rumah sakit menolaknya jika itu dirasakan pihak rumah sakit tidak perlu dilakukan dan menghabiskan uang. Meskipun pasien bersedia membayar lebih dari tarif pemeriksaan normal. Karena itu, ia berjanji akan tetap berobat kesana bila ada keluhan penyakit.

Kepuasaan yang dirasakan Tony juga dialami oleh beberapa pasien Indonesia yang berobat ke Malaysia. Mereka lebih memilih berobat dengan berbagai alasan, seperti lebih dekat daripada harus berobat ke Jakarta. Hal ini biasanya terjadi pada pasien yang berbatasan langsung dengan Malaysia, seperti yang tinggal di Nangroe Aceh Darusalam, Riau, Sumatra Utara, bahkan Jambi atau Sumatera Barat.

Alasan lainnya karena harganya lebih murah daripada tarif berobat di Indonesia, dan mendapatkan pelayanan ekstra di Malaysia. Namun, karena sekarang Indonesia terkena dampak pandemi COVID-19 yang parah, banyak pasien asal Indonesia sempat tidak diperkenankan masuk ke Malaysia. Sehingga arus kedatangan pasien dari Indonesia berkurang.

Padahal sebelum pandemi, banyak pasien dari Indonesia berobat ke negeri jiran. Setiap tahun, sekitar 4.000 pasien berobat jantung ke Malaysia. Sedangkan secara umum ada 500.000 penduduk Indonesia yang berobat ke Malaysia.

Pimpinan Kantor Perwakilan Rumah Sakit Malaysia di Indonesia, Firda Rusdiana mengatakan, selama ini bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mencari second opinion ataupun ingin medical check up ke Malaysia bukanlah hal yang baru lagi. “Mereka rela datang jauh-jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih maksimal,” katanya seperti dilansir dari Sindonews.com.

Kini kelonggaran diberikan kepada pasien asal Indonesia yang merupakan konsumen utama rumah sakit-rumah sakit di Malaysia. Kantor perwakilan rumah sakit Malaysia di Indonesia memberikan kemudahan kepada pasien yang punya rencana berobat ke negeri jiran.

“Pasien tidak akan dibebankan dengan segala pengurusan administrasi rumah sakit dan peraturan pemerintah di sana sebelum berobat ke Malaysia,” kata Firda. Kemudahan tersebut berupa antara lain, estimasi biaya berobat, merekomendasikan dokter dan rumah sakit yang sesuai jenis penyakit yang dikeluhkan, serta konsultasi secara virtual.

Namun selama pandemi ini, Malaysia belum memberikan lampu hijau untuk pasien asal Indonesia yang akan menjalani rawat inap. Selain itu, pasien harus memenuhi ketentuan dari Malaysia. Ketentuan tersebut antara lain, karantina di rumah sakit akan diperpanjang menjadi 14 hari.

Berdasarkan informasi dari linksehat.com, karantina selama ini dilakukan sebelum keberangkatan ke Malaysia, menjelang berobat ke rumah sakit, selama di rumah sakit dan menjelang kepulangan ke Indonesia. Selama itu pasien menjalani pemeriksaan dengan tes PCR (polumerase chain reaction) sebanyak 4 kali. Kemudian, harus mengurus ijin berobat ke Layanan Kesehatan Malaysia Travel Council (MHTC) terlebih dahulu.

Untuk itu, beberapa rumah sakit di negeri Kuala menyediakan layananan dengan telemedisin atau konsultasi virtual. Cara ini mendorong rumah sakit melakukan perawatan proaktif dengan tarif yang lebih murah. Pasien yang kesulitan pergi ke Malaysia, masih bisa berkonsultasi dengan dokter dari rumah sakit langganannya.

Salah satunya adalah yang dilakukan beberapa rumah sakit yang tergabung dalam Grup Health Management International (HMI). Kelompok usaha tersebut memiliki dua rumah sakit di Malaysia, yaitu Mahkota Medical Centre dan Regency Specialist Hospital.

Dua rumah sakit di bawah Grup HMI adalah rumah sakit wisata medis terkemuka, yang melayani banyak pasien di seluruh Asia Tenggara. Indonesia menjadi pasar penting bagi grup perusahaan ini, mengingat kesamaan budaya antara Indonesia dan Malaysia.

Seperti dalam rilisnya yang diterima OBATDIGITAL, baru-baru ini, kedua rumah sakit tersebut menawarkan pendekatan hibrida untuk memberikan telemedisin dan keterlibatan langsung dengan jaringan luas Kantor Perwakilan Resmi (ARO) HMI Group di berbagai kota di seluruh Indonesia. ARO ini memfasilitasi janji telekonsultasi dan tes pra-penyaringan yang diperlukan sebelum konsultasi yang sebenarnya.

Hal ini untuk meningkatkan pengalaman dan kepuasan pasien, khususnya dari Indonesia. “Kontinuitas konsultasi dan peresepan obat tidak lagi tantangan, kecuali untuk persyaratan diagnosis dan pengobatan langsung di mana pasien masih perluperjalanan ke rumah sakit,” ujar Stanley Lam chief executive officer Mahkota Medical Center. Terdapat tiga situs web milik rumah sakit yang bisa diakses oleh perangkat seluler pasien. Pasien pun dimudahkan dalam penggunaan situs tersebut.

Pasien di luar negeri yang berobat ke Malaysia (Diolah ulang oleh Helmi Kurnia)

Selain itu, rumah sakit menyediakan pengiriman obat resep, dengan standar ketat untuk pembungkusan dan suhu pengiriman untuk menjaga keamanan obat. Jika obat tidak dapat diantar, dokter akan memberikan resep kepada pasien untuk membeli obat di apotek setempat.

Kemudian, sama seperti yang diucapkan Tony, biaya terapi di Malaysia jauh lebih murah. Untuk bedah pintas jantung misalnya, pasien cuma dikenakan US$20.800. Sedangkan di Thailand dikenakan ongkos US$33.000 dan Singapura US$54,500. Kemudian untuk biaya operasi penggantian panggul pasien di Malaysia cuma membayar US$12.500, sedangkan di Thailand dan Singapura tarifnya US$16.500 dan US$46.000.

Upaya Malaysia untuk menarik sebanyak mungkin warga Indonesia untuk berobat cukup beralasan. Dibandingkan dengan Thailand dan Singapura, Malaysia masih mencatat angka terkecil jumlah kunjungan berobat dari warga Indonesia.Menurut The Straits Times edisi 17 Agustus 2021, sebanyak 670.000 warga Indonesia yang menjalani pengobatan di Malaysia pada 2018.

Ini meningkat dibandingkan setahun sebelumnya yang sebanyak 583.000 pasien. Pasien dari Indonesia menguasai 80% jumlah pasien, sisanya berasal dari negara-negara lain. Mereka membelanjakan uang sebanyak US$11,5 miliar setahun.

Di samping Indonesia, ada warga negara asing lain berobat ke Malaysia. Jumlahnya pun terus meningkat. Pada 2017 Jumlah pasien dari negara lain yang berkunjung ke sana totalnya – termasuk Indonesia 1,05 juta. Jumlah terus meningkat dan pada tahun 2020 menjadi sekitar 2 juta.

Pasien sudah merasakan dimanjakan, meski belum sampai di rumah sakit. Ketika menginjakkan kakinya di sejumlah bandara terpampang fasilitas bagi calon pasien. Pemerintah setempat menyediakan Malaysia Healthcare Lounge yang bertempat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), KLIA2 dan Penang International Airport menyediakan layanan penjemputan di aerobridge, jalur cepat melewati imigrasi dan bea cukai dan bantuan pengambilan bagasi.

Begitu tiba di rumah sakit, banyak penawaran terapi yang disesuaikan dengan penyakit yang diderita pasien. “Rumah sakit kami melayani sejumlah besar pasien di seluruh Asia Tenggara, menyediakan komprehensif, perawatan multidisiplin mulai dari prosedur rawat jalan invasif minimal hingga perawatan kanker dan operasi transplantasi ginjal yang kompleks,” ujar Stanley Lam kepada Aries Kelana dari OBATDIGITAL secara tertulis (25/8/2021).

Reputasinya sebagai rumah sakit yang terpercaya juga didukung oleh penghargaan yang diperolehnya. Regency Specialis Hospital misalnya, seperti dikatakan CEO Serena Yong, sudah mendapat penghargaan Crown dari World Stroke Organization pada kuartal 1 dan 2 tahun ini karena dianggap memenuhi standar global dalam perawatan stroke. Sebelumnya Regency meraih penghargaan Platinum di organisasi yang sama.

Sedangkan Mahkota Medical Center mendapat penghargaan dari pemerinah Malaysia dalam penanganan kanker payudara. Kelangsungan hidup pasien kanker payudara selama lima tahun yang dirawat di Mahkota mencapai 98%. “Ini lebih baik dari yang dicapai (rumah sakit – Redaksi) di Inggris dan Jepang,” sambung Lam.

About Post Author

Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.

Translate »