0 0
Read Time:3 Minute, 25 Second
Deddy Corbuzier (Dok: instagram.com/mastercorbuzier)

OBATDIGITAL – Deddy Corbuzier belum lama ini menghilang dari aktivitas dunia medis sosial selama beberapa pekan. Namun terakhir muncul kembali dengan membuat pernyataan mengejutkan.

Rupanya di tengah persembunyiannya itu ia terkena bergulat melawan COVID-19. Bahkan artis dan presenter ini mengaku nyaris nyawanya melayang dan mengalami badai sitokin. Badai sitokin memang menjadi salah satu indikasi yang banyak menyerang pasien COVID-19. Lalu apa itu badai sitokin?

Badai sitokin tidak lain adalah dimana sistem imun tubuh bereaksi berlebihan terhadap virus SARS CoV-2 (severe acute respiratory syndrome corona virus type 2), yang berbentuk sinyal peradangan atau inflamasi. Artinya meskipun jumlah virusnya sudah berkurang, namun sel imun menganggap virusnya masih banyak sehingga perlu diserang. Badai ini juga terjadi pada penyakit kanker.

Apa yang terjadi kemudian, terjadi gagal organ, terutama di paru-paru. Kondisi ini yang membuat sebagian pasien COVID-19 tak bisa diselamatkan.

Menurut Dina Ragab, ilmuwan dari Departemen Patologi Klinis, Fakultas Kedokteran, Universitas Ain Shams, Kairo, Mesir, kematian pada pasien COVID-19 telah dikaitkan dengan adanya apa yang disebut “badai sitokin” yang disebabkan oleh virus.

Produksi sitokin proinflamasi yang berlebihan menyebabkan perburukan ARDS (acute respiratory distress syndrome) dan kerusakan jaringan luas yang mengakibatkan kegagalan multi-organ dan kematian. “Menargetkan sitokin selama pengelolaan pasien COVID-19 dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan mengurangi kematian,” ujarnya.

Infeksi COVID-19 disertai dengan respons inflamasi agresif dengan pelepasan sejumlah besar sitokin pro-inflamasi dalam peristiwa yang dikenal sebagai “badai sitokin.” Respon imun pejamu terhadap virus SARS-CoV-2 bersifat hiperaktif yang mengakibatkan reaksi inflamasi yang berlebihan.

Beberapa penelitian, sambung Ragab, yang menganalisis profil sitokin dari pasien COVID-19 menunjukkan bahwa badai sitokin berkorelasi langsung dengan cedera paru-paru, kegagalan multi-organ, dan prognosis COVID-19 yang parah.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Frontiers in Immunology terbaru, menunjukkan bahwa istem kekebalan memiliki mekanisme luar biasa yang mampu merespons berbagai patogen. Respon imun anti-virus yang normal memerlukan aktivasi jalur inflamasi dari sistem imun. Namun, respon yang menyimpang atau berlebihan dari sistem kekebalan inang dapat menyebabkan penyakit parah jika tetap tidak terkendali.

Sitokin adalah bagian penting dari proses inflamasi. Sitokin diproduksi oleh beberapa sel imun termasuk makrofag bawaan, sel dendritik, sel pembunuh alami dan limfosit T dan B adaptif. Selama respon imun bawaan terhadap infeksi virus, reseptor pengenalan pola (PRR) mengenali struktur molekul berbeda yang merupakan karakteristik virus yang menyerang. Struktur molekul ini disebut sebagai pola molekuler terkait patogen (PAMPs).

Pengikatan PAMP ke PRR memicu dimulainya respons inflamasi terhadap virus yang menyerang yang mengakibatkan aktivasi beberapa jalur pensinyalan dan selanjutnya faktor transkripsi yang menginduksi ekspresi gen yang bertanggung jawab untuk produksi beberapa produk yang terlibat dalam respons imun inang terhadap virus, di antaranya adalah gen yang mengkode beberapa sitokin pro-inflamasi.

Faktor transkripsi utama yang diaktifkan oleh PRR adalah faktor inti kB, protein aktivasi 1, faktor respons interferon tiga dan tujuh. Faktor transkripsi ini menginduksi ekspresi gen yang mengkode sitokin inflamasi, kemokin, dan molekul adhesi. Urutan kejadian ini menghasilkan perekrutan leukosit dan protein plasma ke tempat infeksi di mana mereka melakukan berbagai fungsi efektor yang berfungsi untuk memerangi pemicu infeksi.

Tiga dari sitokin pro-inflamasi yang paling penting dari respon imun bawaan adalah IL-1, TNF-α, dan IL-6. Sedangkan makrofag jaringan, sel mast, endotel, dan sel epitel adalah sumber utama sitokin ini selama respon imun bawaan.

“Nah, “Badai sitokin” dihasilkan dari peningkatan akut yang tiba-tiba dalam tingkat sirkulasi berbagai sitokin pro-inflamasi termasuk IL-6, IL-1, TNF-α, dan interferon,” imbuh Barga.

Peningkatan sitokin ini mengakibatkan masuknya berbagai sel imun seperti makrofag, neutrofil, dan sel T dari sirkulasi ke tempat infeksi dengan efek destruktif pada jaringan manusia akibat destabilisasi interaksi sel endotel ke sel, kerusakan sawar pembuluh darah, kerusakan kapiler, kegagalan multiorgan, dan akhirnya kematian.

Cedera paru merupakan salah satu konsekuensi dari badai sitokin yang dapat berkembang menjadi cedera paru akut atau ARDS yang lebih parah. ARDS yang mengarah ke tingkat saturasi oksigen yang rendah adalah penyebab utama kematian pada COVID-19. Meskipun mekanisme pasti ARDS pada pasien COVID-19 tidak sepenuhnya dipahami, produksi sitokin pro-inflamasi yang berlebihan dianggap sebagai salah satu faktor penyebab utama.

About Post Author

Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.

Translate »