Kanker Paru
0 0
Read Time:3 Minute, 41 Second
Kanker Paru
Ilustrasi kanker paru

Peringkat: 1 dari 5.

OBATDIGITAL – Menyambut Hari Kanker Paru Sedunia yang jatuh di bulan Agustus ini, banyak temuan yang didapat Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP). Temuan tersebut disampaikan dalam webinar Lunch Talk yang berlangsung pada Minggu (22/8/2021).

Peringatan Hari Kanker Paru sedunia itu penting lantaran menurut data GLOBOCAN 2020, kematian karena kanker paru di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 18% selama dua tahun terakhir menjadi 30.843 orang dengan kasus baru mencapai 34.783 kasus.  Situasi ini mengindikasikan bahwa di Indonesia terdapat empat orang meninggal akibat kanker paru setiap jam dan berpotensi untuk meningkat setiap harinya jika kanker paru tidak dijadikan prioritas nasional. 

Kondisi itu makin memprihatinkan itu karena sejak tahun lalu Indonesia bersama negra-negara di dunia tengah dilanda pandemi COVID-19, suatu penyakit baru yang mematikan. Dalam masa ini, banyak dana yang dikucurkan lebih banyak dialokasi pada penanganan pandemi tersebut. Di lain pihak, penanganan kanker paru kurang mendapat perhatian serius.

Padahal keberhasilan penatalaksanaan pengobatan kanker paru di Indonesia tergantung dari adanya akses pasien terhadap diagnosis yang tepat dan pengobatan inovatif yang berkualitas. Sayangnya, saat ini para pemangku kepentingan di sektor kesehatan tengah mengalokasikan sebagian besar fokus mereka terhadap pemulihan kesehatan nasional yang terdampak pandemi.

Di sisi lain, situasi ini juga berdampak terhadap pelayanan pasien kanker, termasuk kanker paru, yang memperoleh peningkatan beban dan risiko, baik kepada penderita maupun kepada petugas medis dan pelayanannya.

Dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K) selaku Anggota Pokja Onkologi Toraks Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengatakan, dalam meningkatkan kualitas hidup pasien yang lebih baik, pengobatan kanker paru telah tersedia di Indonesia dengan mengikuti panduan tatalaksana kanker paru dari PDPI sesuai dengan pedoman internasional, termasuk pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi target, dan imunoterapi. 

“Terobosan dalam teknologi penanganan kanker paru terus berkembang dan tersedia di Indonesia dapat meningkatkan rata-rata angka harapan hidup atau median overall survival rate serta kualitas hidup penderita kanker paru di Indonesia sesuai dengan guidelines internasional. Selain itu, pasien kanker paru juga disarankan untuk mengkonsultasikan kebutuhan vaksinasi COVID-19 dengan ahli medis agar mendapatkan penanganan dan pengawasan yang ketat,” ujar Sita.

Di situasi pandemi ini, tantangan yang dihadapi oleh pasien kanker paru semakin besar karena merupakan salah satu kelompok rentan terpapar COVID-19 bahkan dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19, sebanyak 1,8% kasus konfirmasi positif memiliki penyakit penyerta kanker, dan sebanyak 0,5% pasien COVID-19 meninggal dengan penyakit penyerta kanker. Dengan risiko tersebut, pasien kanker paru juga membutuhkan vaksin COVID-19 dengan pengawasan medis yang ketat untuk berjuang.

Dalam kesempatan yang sama, Megawati Tanto selaku Koordinator CISC (Indonesian Cancer Information and Support Care) Paru menjelaskan, masih dalam semangat Hari Kanker Paru Sedunia, Gerakan Nasional IPKP kembali melihat bahwa situasi kanker paru di Indonesia masih dalam kondisi yang pelik.

“Menghadapi kondisi dimana adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi berupa akses pengobatan, pasien kanker paru kini juga harus berjuang dengan realita risiko terpapar COVID-19 yang besar setiap harinya di masa Pandemi ini. Pasien harus berjuang melawan kesakitan fisik, beban psikologi, sosial, serta ekonomi,” kata Megawati.

Laporan Keuangan BPJS 2019 menunjukkan hanya 3% dana dari JKN  yang telah dialokasikan untuk pengobatan kanker. JKN hanya menjamin pengobatan personalisasi bagi penyintas kanker paru dengan mutasi EGFR positif.  Hampir 60% dari penyintas kanker paru memiliki mutasi EGFR negatif dan masih hanya mendapatkan pengobatan kemoterapi.  Padahal, pengobatan kanker paru di Indonesia semakin inovatif dalam teknologi dan berstandar internasional, seperti pengobatan imunoterapi.

Selanjutnya, Naomi Oktalina Ginting sebagai penyintas kanker paru menyampaikan, sebagai pasien kanker paru stadium 3B, saya telah melewati berbagai manis dan pahit saat menjalani prosedur diagnosis dan pengobatan kanker paling mematikan ini.

“Saya masih melihat bahwa di lapangan masih banyak ketidakmerataan akses pengobatan kanker paru untuk pasien kritis yang berjuang dalam kesakitannya. Dengan penyakit kanker paru yang kami bawa ini, kami harus juga berjuang berdampingan dengan risiko paparan lainnya seperti COVID-19. Oleh karena situasi yang semakin rumit ini, kami sangat mengharapkan akses pengobatan pada pasien kanker paru juga diprioritaskan secara nasional,” ucap Naomi

Ketua Umum CISC dan salah satu Penggagas Gerakan Nasional IPKP, Aryanthi Baramuli Putri, mengutarakan bahwa gerakan nasional ini juga merupakan wadah yang tepat bagi para penyintas untuk menyampaikan aspirasi mereka agar dapat lebih didengar oleh para pemangku kepentingan terkait. 

“Harapannya, kegiatan ini bisa bermanfaat dan  semakin banyak pihak yang memberikan perhatian lebih terhadap situasi kanker paru di Indonesia, terutama dalam hal kemudahan pasien kanker untuk mengakses pengobatan terbaik di kondisi penuh tantangan di masa pandemi ini,” pungkas Aryanthi Baramuli Putri.

About Post Author

Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.

Translate »