0 0
Read Time:3 Minute, 8 Second

OBATDIGITAL – Selain dengan vaksinasi dan penerapan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), penanganan COVID-19 di Indonesia juga perlu dipercepat dengan melakukan 3T( tracing, testing dan treatmen). Dari tiga anjuran itu, maka yang perlu digalakkan sampai sekarang meningkatkna 3T.

Masalahnya percepatan 3T yang diinginkan Presiden Joko Widodo belum bisa dipenuhi. Dari permintaan testing 400.000 per hari, kini masih berada pada kisaran 100.000-200.000 per hari. Akibatnya tracing pun ikut terganggu yang berdampak pada treatment.

Testing pun juga masih menyisakan persoalan. Harga tes polymerase chain reaction (PCR) masih mahal dan masih lama untuk memperoleh hasilnya. Dalam soal harga misalnya, masih pada kisaran Rp 900.000 per hari. Itu jika ingin mendapatkan hasil tidak lebih cepat dari 2-3 hari. Bahkan ditemukan ada beberapa yang sampai menunggu sepekan.

Oleh karena Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk menurunkan harga tes PCR.“Saya sudah berbicara dengan Menteri Kesehatan mengenai hal ini, saya minta agar biaya tes PCR berada di kisaran antara Rp 450.000 sampai Rp 550.000,” kata Jokowi dalam keterangannya seperti yang dilansir kanal YouTube Sekretariat Presiden (15/8/2021).

“Selain itu saya juga minta agar tes PCR bisa diketahui hasilnya dalam waktu maksimal 1×24 jam. Kita butuh kecepatan,” tuturnya.

Isu mahalnya vaksin berangkat dari pernyataan gurubesar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor Tjandra Yoga Adhitama. Ia menunjukkan bahwa biaya tes PCR di India jauh lebih murah ketimbang di sini. Di sana, harganya cuma Rp200.000. Sedangkan untuk swab antigen di bawah angka Rp100.000.

Inilah yang barangkali membuat penanganan COVID-19 di India jauh lebih cepat. Ketika India diserang virus COVID-19 varian Delta, kasus COVID-19 di sana mencapai 300.000 per hari dengan angka kematian 3.000 per hari. Namun dalam tempo tidak sampai 3 bulan, jumlah kasus aktif menurun dari 3 juta kasus kini tinggal pada kisaran 200.000-300.000 per hari. Padahal jumlah penduduk di sana lebih banyak sekitar 100 juta daripada penduduk Indonesia yang berjumlah 280-an juta.

Alasan Jokowi untuk meminta Menkes menurunkan patokan tersebut bukan tanpa alasan. Harga yang mahal membuat beberapa orang enggan mengeluarkan uang sebanyak itu untuk memeriksakan diri ke klinik. Mereka lebih memilh melakukan swab antigen yang lebih murah. Ini dimaklumi karena dampak pandemi memberikan pengaruh pada pendapatan yang berkurang dan pengeluaran yang bertambah untuk pemeriksaan dan pengobatan.

Padahal akurasi antigen masih kalah dibandingkan PCR. Akibatnya mereka mau diperiksa dengan PCR bila dirawat di rumah sakit. Di rumah sakit, biaya pemeriksaan ditanggung pemerintah selama dirawat di sana. Kondisi ini membuat tracing terganggu. Ini karena yang sudah positif COVID-19 tanpa tes berpotensi menulari orang lain.

Mahalnya harga PCR ditambah lagi dengan lamanya pemeriksaan PCR. Di beberapa kasus orang yang meninggal dunia dinyatakan positif sementara oleh rumah sakit. Tetapi beberapa hari setelah dimakamkan dan keluar hasilnya negatif ini tentu akan mengecewakan pihak keluarga pasien. Pasien tidak bisa menguburkan sesuai dengan keinginan. Seandainya hasil pemeriksaan bisa lebih cepat lagi, dan bisa diketahui keluarga sebelum mayat pasien dikuburkan, keluarga pasien tentu memakluminya.

Kelambatan hasil itu juga memperlambat tracing yang beperngaruh pada kecepatan treatment. Sehingga virus sudah keburu menulari orang lain, sebelum hasil PCR keluar. Untuk itu perlu pengertian dan keterlibatan semua pihak untuk memeprcepat penanganan COVID-19.

Kini permintaan Jokowi justru dijawab oleh pihak rumah sakit dengan dalih harga beli PCR sudah tinggi. Sekretaris Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia Lia Gpartakusuma meminta pemerintah mempertimbangkan dan memeprhitungkan biaya operasional kebutuhan laboratorium seperti ruang laboratorium molekuler dan sebagainya. “Mohon bantuannya harga beli juga harus diturunkan,” kata Lia.

Kini bola ada di produsen alat-alat kesehatan. Sejauh ini belum ada keterangan dari produsen menanggapi permintaan Jokowi.

Yang jelas, jika ingin COVID-19, semua yang terlibat dalam penanganan COVID-19 perlu memberikan kerelaan, demi kepentingan dan kesehatan masyarakat lebih luas.

About Post Author

obatdigital

Obat Digital adalah startup yang menampilkan beberapa informasi seputar industri farmasi berikut bisnisnya, baik obat-obatan, herbal, vaksin, alat kesehatan. Situs web ini didirikan agar pengunjung lebih melek soal perkembangan dunia medis dan pemanfaatannya.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By obatdigital

Obat Digital adalah startup yang menampilkan beberapa informasi seputar industri farmasi berikut bisnisnya, baik obat-obatan, herbal, vaksin, alat kesehatan. Situs web ini didirikan agar pengunjung lebih melek soal perkembangan dunia medis dan pemanfaatannya.

Translate »