Obat COVID-19 Remdesivir
0 0
Read Time:2 Minute, 22 Second

OBATDIGITAL – Para peneliti di Amerika Serikat (AS) tengah memodifikasi remdesivir menjadi obat versi oral. Sebelumnya, Remdesivir hanya bisa diberikan secara intravena di rumah sakit. Sebab selama ini obat terapi COVID-19 diberikan lewat injeksi.

Obat yang diklaim dapat menangani gejala awal sejak diagnosis COVID-19 muncul ini sempat diuji sebagai terapi potensial, dan terbukti secara terukur mengurangi waktu pemulihan pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui penggunaan remdesivir pada Oktober 2020, dan hingga saat ini menjadi satu-satunya antivirus yang disetujui FDA untuk pengobatan infeksi SARS-CoV-2 (severe acute respiratory syndrome corona virus type 2).

KLIK; FDA: Baricitinib Tak Perlu Dikombinasi Remdesivir Obati Pasien COVID-19

Dalam sebuah makalah terbaru yang diterbitkan dalam Antimicrobial Agents and Chemotherapy edisi daring pada 26 Juli 2021, para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas California (UC), San Diego, AS, menemukan hasil yang mencengangkan. Hasil studinya menunjukkan bagaimana modifikasi lipid nukleosida remdesivir dapat meningkatkan efektivitas dan toksisitas dibandingkan dengan Remdesivir versi sebelumnya.

Profesor Robert T. Schooley,, dari UC San Diego, menjelaskan bahwa pengembangan vaksin berdampak besar pada kondisi epidemik. Pasalnya COVID-19 terus menyebar dan menyebabkan penyakit serius terutama di antara orang yang tidak divaksinasi.

KLIK: Mengapa Indonesia Mau Mendatangkan Obat terapi COVID-19 Remdesivir? Ini Alasannya

“Dengan evolusi varian virus yang lebih menular, kasus terobosan COVID terlihat, beberapa di antaranya bisa parah pada mereka yang memiliki kondisi yang mendasarinya. Kebutuhan akan obat antivirus yang efektif dan dapat ditoleransi dengan baik yang dapat diberikan kepada paten yang berisiko tinggi untuk penyakit parah pada tahap awal penyakit tetap tinggi,” papar Schooley dilansir dari situs UC San Diego Health (2/8/2021).

Tim peneliti berusaha mensintesis tiga prodrug lipid baru, yang menggabungkan agen terapeutik (remdesivir nucleoside) dengan salah satu dari beberapa jenis lipid-fosfat. Molekul terkonjugasi yang dihasilkan menggunakan jalur baru untuk memasuki sel yakni bagian lipid fosfat yang membawa obat. Produk lipid fosfat dari nukleosida Remdesivir dapat dikonsumsi secara oral, tetap utuh dan bioaktif dalam tubuh dapat diserap dengan baik oleh sistem pencernaan.

Lebih lanjut Schooley memaparkan, COVID-19 adalah penyakit dua tahap. Pertumbuhan virus yang cepat terjadi tidak lama setelah infeksi, hal ini dapat memicu respons imun yang menghasilkan pneumonia ‘inflamasi’ pada mereka yang sistem imunnya kurang baik.

“Agar efektif secara maksimal, terapi antivirus harus diberikan pada awal penyakit sebelum fase inflamasi penyakit mengakibatkan rawat inap. Senyawa ini dirancang untuk diminum, diserap dengan cepat dari saluran pencernaan dan sebagian besar melewati hati di mana sebagian besar toksisitas Remdesivir terlihat,” imbuh Schooley.

Untuk menjadi aktif, remdesivir memerlukan modifikasi oleh beberapa enzim. Prodrug lipid dalam penelitian diaktifkan oleh reaksi enzimatik tunggal sederhana dan menunjukkan aktivitas antivirus yang kuat secara konsisten dan toksisitas minimal di banyak jenis sel. Hasilnya, ditemukan bahwa prodrug lipid secara seragam menghambat replikasi RNA (ribo nucleic acid) SARS-CoV-2 di seluruh tipe sel tubuh. 

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »