Penelitian farmasi
0 0
Read Time:2 Minute, 58 Second

OBATDIGITAL – Harus diakui bahwa inovasi yang dilakukan industri farmasi lokal masih kalah jauh dibandingkan dengan industri farmasi multinasional. Selama ini keluhan industri farmasi lokal masih berkutat pada bahan baku impor dan biaya riset yang mahal.

Padahal menurut Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies, Andree Surianta, persoalannya terletak pada regulasi. Ia mengatakan, berbagai regulasi terkait sektor farmasi perlu dievaluasi. Regulasi ataupun kebijakan yang ada saat ini dinilai masih menghambat inovasi dan pengembangan industri farmasi nasional.

“Industri farmasi di Indonesia adalah suatu contoh di mana berbagai kebijakan lokalisasi tidak kunjung berhasil membangkitkan investasi maupun inovasi,” ungkap Andree dalam siaran persnya (31/7/2021).

Salah satu yang disoal Andree adalah Daftar Negatif Investasi 2007. Di situ isinya antara lain membatasi kepemilikan asing maksimal 75% di sektor ini. Lalu Peraturan Menkes 1010 Tahun 2008 yang mewajibkan semua obat yang terdaftar di Indonesia harus diproduksi secara lokal.

Memang pada 2016, pemerintah merelaksasi dengan mengizinkan kepemilikan asing 100% untuk manufaktur bahan baku obat, dan 85% untuk produksi obat-obatan jadi. Namun relaksasi itu diimbangi dengan keluarnya Instruksi Presiden 6 Tahun 2016 kepada 12 kementerian/lembaga untuk mengembangkan industri farmasi melalui kebijakan lokalisasi.

Berbagai kebijakan itu disebut bertujuan agar memacu transfer teknologi dan meningkatkan kapasitas produksi lokal. Namun, menurut Andree, realisasi investasi asing maupun dalam negeri biasanya justru langsung turun setelah kebijakan lokalisasi dikeluarkan.

“Kebijakan lokalisasi 2007-2008 diikuti realisasi investasi yang rendah sepanjang 2009-2014. Investasi naik mulai di 2015, usai pasar baru dibuka dengan diluncurkannya JKN. Ini pun kembali seret pasca 2016 karena regulasi yang tumpang tindih,” jelasnya dalam validnews.id

Peraturan Presiden 10 Tahun 2021 tentang investasi sebagai implementasi UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja memang tak lagi membatasi kepemilikan asing di pabrik farmasi. Tetapi semangat lokalisasi dalam Instruksi Presiden 6 Tahun 2016 masih memunculkan berbagai peraturan menteri yang restriktif.

Contohnya, Permenperin 16 Tahun 2020 tentang Cara Perhitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) obat-obatan. Walaupun sertifikasi TKDN belum diwajibkan, tetapi perlu diingat bahwa industri farmasi lokal masih sangat bergantung bahan baku impor.

“Dibutuhkan ratusan bahan dasar dalam memformulasikan sebuah obat, termasuk vaksin. Sementara tidak semua bahan tersebut dibuat di Indonesia,” ujarnya.

Andree berpendapat penerapan TKDN bisa menyulitkan produsen mengembangkan kapasitasnya, termasuk produsen lokal. Pemerintah sebaiknya justru perlu membuka jalur impor untuk bahan baku obat-obatan, bukan mengambil langkah proteksionis.

Pemerintah, lanjut dia, umumnya meyakini bahwa kebijakan restriktif tidak mengurangi daya tarik dari populasi Indonesia yang besar. Padahal nilai pasar farmasi Indonesia terbilang kecil hanya sekitar 1% dari dua pasar terbesar dunia yaitu Amerika Serikat dan Cina.

“Jadi, adanya regulasi yang memaksa perusahaan untuk membangun pabrik baru di Indonesia mungkin malah akan mengurangi efisiensi dari pabrik yang sudah dibangun di pasar lain yang jauh lebih besar,” imbuh dia.

Biaya yang lebih tinggi dan pasar yang lebih kecil berakibat pada laba yang lebih rendah bagi perusahaan farmasi multinasional di Indonesia. Ini dinilai tak menarik bagi investor, sebab tingkat pengembalian lebih rendah dan jangka waktu pemulihan investasi lebih panjang.

Keharusan perusahaan untuk menggandeng mitra lokal juga turut menghalangi inovasi industri farmasi. Di satu sisi, perusahaan farmasi milik asing tak yakin mau membagi kekayaan intelektual dengan perusahaan lokal karena bisa menjadi pesaing.

Terlebih perusahaan lokal yang menjadi mitranya kemungkinan tidak berkontribusi banyak dalam biaya penelitian dan pengembangan yang tidak kecil.

Di sisi lain, keharusan menggandeng mitra lokal justru membuat perusahaan lokal itu sendiri cenderung menunggu tawaran kerja sama dari perusahaan asing tersebut. Alih-alih, seharusnya mereka berinvestasi untuk penelitian dan pengembangannya sendiri.

“Efek negatif kebijakan ini terhadap inovasi cukup jelas terlihat dari fokus pabrikan lokal kepada obat generik yang sedikit sekali unsur penelitian dan pengembangannya,” pungkas Andree. 

About Post Author

Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Aries Kelana

Pernah menjadi redaktur kesehatan di sejumlah media cetak nasional dan media online. pernah menjadi pemimpin redaksi di media online nasional, pernah menjadi juri beberapa lomba penulisan jurnalistik, lomba penulisan dokter. Selain itu, pernah menjuarai berbagai lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional dan internasional. Menulis buku dan menjadi editor beberapa buku karya dokter.

Translate »