0 0
Read Time:1 Minute, 57 Second

OBATDIGITAL – Bagi sebagian orang antibiotik azitromisin yang sempat digadang-gadang sebagai obat COVID-19, Tak heran, penjualan antibiotik satu ini tergolong pesat karena banyak dicari khususnya bagi pasien isolasi mandiri (isomandiri), sehingga obat ini sempat langka di pasaran. Padahal menurut berbagai studi, obat itu masih diragukan sebagai obat terapi COVID-19.

Berdasarkan hasil penelitian di Universitas California (UC) San Francisco, Amerika Serikat, ditemukan bahwa antibiotik azitromisin tidak lebih efektif dari plasebo dalam mencegah gejala COVID-19 pada pasien rawat jalan yang tidak dirawat di rumah sakit. Selain itu, dapat meningkatkan peluang mereka untuk dirawat di rumah sakit, meskipun ada resep antibiotik yang tersebar luas untuk penyakit tersebut. Azitromisin, antibiotik spektrum luas, diresepkan sebagai pengobatan untuk COVID-19 di Amerika Serikat dan seluruh dunia.

Asisten profesor di UCSF Proctor Foundation sekaligus penulis utama dalam penelitian, Catherine E. Oldenburg, ScD, MPH mengatakan hasil penelitian timnya tidak mendukung penggunaan rutin azitromisin untuk infeksi SARS-CoV-2 rawat jalan. SARS-CoV-2 adalah virus penyebab COVID-19.

“Hipotesisnya adalah bahwa ia memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mencegah perkembangan penyakit jika diobati sejak dini. Kami tidak menemukan ini menjadi kasusnya,” jelas Oldenburg dilansir dari JAMA: The Journal of the American Medical Association (16/7/2021) berjudul “Pengaruh Azitromisin Oral vs Plasebo pada Gejala COVID-19 pada Pasien Rawat Jalan Dengan Infeksi SARS-CoV-2 Percobaan Klinis Acak”.

Penelitian ini melibatkan 263 peserta yang semuanya dinyatakan positif SARS-CoV-2 dalam waktu tujuh hari sebelum masuk dalam penelitian. Tidak ada yang dirawat di rumah sakit pada saat pendaftaran. Dalam proses seleksi acak, 171 peserta menerima dosis tunggal, 1,2 gram oral azitromisin dan 92 menerima plasebo identik.

Pada hari ke-14 penelitian, 50 persen peserta tetap bebas gejala pada kedua kelompok. Pada hari ke-21, lima peserta yang menerima azitromisin telah dirawat di rumah sakit dengan gejala COVID-19 yang parah dan tidak ada kelompok plasebo yang dirawat di rumah sakit.

Para peneliti menyimpulkan bahwa pengobatan dengan dosis tunggal azitromisin dibandingkan dengan plasebo ternyata tidak signifikan untuk meringankan gejala COVID-19. Butuh obat-obatan penyerta lainnya untuk dapat mengobati secara menyeluruh.

“Sebagian besar percobaan yang dilakukan sejauh ini dengan azitromisin berfokus pada pasien rawat inap dengan penyakit yang cukup parah. Makalah kami adalah salah satu studi terkontrol plasebo pertama yang menunjukkan tidak ada peran azitromisin pada pasien rawat jalan,” tutup Oldenburg. 

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »