0 0
Read Time:2 Minute, 38 Second

OBATDIGITAL – Vaksin Oxford-AstraZeneca merupakan salah satu vaksin COVID-19 adalah salah satu vaksin COVID-19 yang sudah digunakan oleh beberapa orang di Indonesia. Tapi tahukah siapa yang berada di balik keberhasilan pembuatan vaksin tersebut. Tahukah bahwa ada orang Indonesia yang ikut terlibat dalam pembuatan vaksin COVID-19 AstraZeneca, yakni yang bernama Indra Rudiansyah.

Ketua timnya adalah peneliti Universitas Oxford Inggris, Profesor Sarah Gilbert, namun ada campur tangan pemuda Indonesia. Pemuda tersebut bernama Indra Rudiansyah. Indra merupakan salah satu peneliti yang pernah terlibat dalam proses pengembangan dan penentuan CMC untuk rotavirus dan vaksin polio oral baru di PT Bio Farma pada dari 2014 sampai 2018, sebelum ia belajar di Oxford.

Baca: AstraZeneca Kirim Lagi 1 Juta Dosis Vaksin COVID-19 Ke Indonesia.

Indra Rudiansyah termasuk dalam tim pengembangan vaksin AstraZeneca. Mahasiswa berusia 28 tahun tersebut turut berpartisipasi dalam penelitian bersama tim peneliti Jenner Institute University of Oxford. Di Oxford ia tengah melanjutkan pendidikan doktoralnya di universitas ternama tersebut. Di situ, fokus utama studinya pada perancangan dan pengembangan pra-klinis vaksin malaria pra-eritrositik menggunakan vektor virus.

“Saya tentunya sangat bangga bisa tergabung dalam tim untuk uji klinis vaksin COVID-19 ini, meskipun ini bukan penelitian utama untuk tesis saya,” ujar Indra Rudiansyah, dilansir dari IDX Channel (19/7/2021).

Baca: Kasus Pasokan Vaksin AstraZeneca Dibawa Ke Pengadilan, AstraZeneca Menang Gugatan.

Indra saat ini sedang menempuh pendidikan D.Phil in Clinical Medicine, Jenner Institute, University of Oxford. Dirinya termasuk dalam tim peneliti pengembangan vaksin COVID-19 AstraZeneca sejak 20 Januari 2021. Tim peneliti tersebut dipimpin Prof. Sarah Gilbert, Prof. Andrew Pollard, Prof. Teresa Lambe, Dr Sandy Douglas, Prof. Catherine Green dan Prof. Adrian Hill.

Di akun Linked miliknya, ia memang orang yang tertarik dalam biologi genetik. “Pertama dan terpenting, saya memiliki antusiasme besar untuk biotek, bioproses, dan teknologi mutakhir seperti pengeditan genom dan biologi sintetik. Saya percaya bahwa teknologi ini dapat meningkatkan kualitas hidup, seperti dalam memerangi epidemi dan penyakit langka,” katanya.

Indra memaparkan, penelitian utama tesisnya terkait vaksin malaria, namun Ia bangga bisa berpartisipasi dalam tim pengembangan vaksin AstraZeneca yang dapat membantu menyelamatkan nyawa selama pandemi. Keikutsertaan Indra dalam uji klinis ini adalah menguji respon antibodi dari para volunteer yang sudah divaksinasi.

“Kemudian kita outbreak mengalami eskalasi menjadi pandemi, semua aktivitas di kampus di tutup kecuali untuk bidang yang terkait dengan COVID-19. Pada saat yang sama project leader menawarkan bagi siapa saja yang bekerja dengan non-COVID jika ingin bergabung akan diperbolehkan,” tuturnya.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Indra disebutkan berperan penuh dalam menganalisa data respon imun tubuh para relawan yang menerima vaksin. Semenjak bergabung pada awal Mei 2020, Indra telah menghabiskan waktu rata-rata 10 jam di laboratorium setiap harinya.

“Ada ratusan peneliti yang bekerja. Sumber daya yang besar ini bertujuan agar vaksin segera bisa dikembangkan dengan cepat,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman Facebook LPDP Indonesia.

Mahasiswa lulusan S1 bidang Mikrobiologi ITB tersebut mengakui adanya tantangan tersendiri dalam penelitian ini. Meski begitu, proses pengembangan tergolong cepat. Hanya dalam waktu 6 bulan, tim pengembangan sudah berhasil memperoleh data uji preklinis dan inisial data untuk safety dan immunogenisitas.

“Biasanya untuk vaksin baru paling tidak memerlukan waktu lima tahun hingga tahapan ini,” imbuh Indra.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »