0 0
Read Time:1 Minute, 57 Second

OBATDIGITAL – Setelah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menghentikan produksi Ivermectin, PT Harsen Laboratories mengajukan permohonan maaf. Perusahaan farmasi tersebut mengakui izin edar yang dikeluarkan BPOM untuk Ivermectin yang diproduksi adalah untuk pengobatan cacingan.

Permintaan maaf disampaikan Vice President Sofia Koswara, Direktur Komunikasi Iskandar Purnomo Hadi, dan Direktur Marketing dr. Riyo Kristian Utomo. Saat ini, PT Harsen tengah melakukan evaluasi terhadap obat tersebut dan akan memperbaikinya. Harsen juga memuat permohonan maaf di sejumlah media massa, termasuk di Harian Kompas halaman 11, edisi 18 Juli 2021.

Baca: Nasib Ivermectin, Usai Pemblokiran terhadap PT Harsen

Dalam permohonan maaf tersebut, pihak Harsen mengakui bahwa pihaknya telah menggiring opini masyarakat untuk melakukan pengobatan COVID-19 secara sendiri dengan membeli obat ivermectin yang bermerk Ivermax 12. Dalam temuan tersebut beberapa hari sebelumnya, BPOM menemukan obat yang tidaks esuai dengan aturan BPOM, sehingga BPOM merasa untuk mengeluarkan perintah penarikan kembali produk obat Ivermax 12.

“Kami klarifikasi bahwa izin edar yang kami terima dari BPOM adalah untuk pengobatan cacingan. Benar bahwa Ivermax 12 adalah obat keras yang penggunaannya harus dengan resep dokter. Kami berjanji akan melakukan perbaikan sesuai dengan saran kosntruktif BPOM,” ujar Presiden Direktur Harsen Haryoseno dilansir dari Kata Data, Minggu (18/07/2021).

Baca: Berpotensi Sembuhkan COVID-19, Harga Obat Ivermectin Melonjak

Harsen menyetujui penarikan Ivermax 12. Selain itu, perusahaan juga akan membuat Corrective Actio Preventive Action (CAPA) dan menyelesaikan temuan mereka.

Sebelumnya, Kepala BPOM Penny K. Lukito membahas mengenai pengawasan terhadap pembuatan Ivermectin produksi PT Harsen dengan nama dagang Ivermax12. Hasilnya, BPOM menemukan proses produksi dan distribusi obat tersebut tidak memperhatikan aspek CPOB (Cara Pembuatan Obat dengan Baik) dan CDOB (cara Distribusi Obat dengan Baik).

Beberapa aspek yang tidak memenuhi ketentuan, antara lain menggunakan bahan baku Ivermectin dengan pemasukan yang tidak melalui jalur resmi dan mendistribusikan obat Ivermax 12 tidak dalam kemasan siap edar. Selain itu, mendistribusikan obat Ivermax 12 tidak melalui jalur distribusi resmi.

Pencantuman masa kedaluarsa Ivermax 12 juga tidak sesuai dengan yang telah disetujui oleh BPOM yaitu seharusnya 12 bulan setelah tanggal produksi namun dicantumkan 2 tahun setelah tanggal produksi. 

Ivermax 12 menjadi heboh setelah di beberapa negara sejumlah pasien COVID-19 merasa sembuh setelah mengonsumsi obat yang mengandung senyawa aktif ivermectin. Sehingga, di sejumlah negara seperti Brasil dan Filipina, obat tersebut banyak digunakan. Ini berdampak di Indonesia banyak pasien COVID-19 yang tanpa gejala dan bergejala mengonsumsi obat tersebut.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Annisa

Translate »