0 0
Read Time:1 Minute, 58 Second

OBATDIGITAL – Terapi plasma kini banyak jadi pilihan sejumlah pasien COVID-19. Sayangnya jumlah donor yang sangat terbatas, membuat tak semua pasien yang membutuhkan mendapat plasma. Akibatnya tak sedikit orang yang tidak tertolong nyawanya. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejauh ini belum mengijinkan penggunaan secara umum pemakaian terapi ini, sehingga risiko penggunaannya diserahkan kepada yang membutuhkan.

Padahal terapi plasma memiliki banyak manfaatnya. Sebuah penelitian di Amerika Serikat baru-baru ini menyebutkan tingginya efektivitas penggunaan plasma pasien COVID-19 untuk mengatasi pandemi. Plasma dari pasien COVID-19 yang sudah pulih secara signifikan dapat mengurangi angka kematian penderita virus COVID-19 varian baru serta penyakit mematikan lainnya seperti kanker darah.

Sejak awal pandemi, pasien yang sistem kekebalannya telah dilemahkan oleh kanker darah seperti limfoma atau multiple myeloma, dianggap sebagai salah satu kelompok dengan risiko tertinggi untuk penyakit parah akibat COVID-19. Efeknya bahkan lebih besar pada pasien yang dirawat di unit perawatan intensif rumah sakit dengan COVID-19 dan kanker darah. Angka kematian 30 hari bagi mereka yang tidak diinfus plasma adalah 46,9 persen, sementara hanya 15,8 persen untuk mereka yang telah menerima plasma.

Studi tersebut, dengan melihat secara retrospektif pada orang-orang yang telah dirawat, memeriksa 966 pasien dengan COVID-19 dan kanker darah. Sebanyak 143 dari mereka telah menerima plasma.

Salah satu peneliti dan profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis, Jeffrey Henderson menyebutkan bahwa pengobatan plasma ini sangat aman. Orang yang mendapat terapi plasma pun tetap bisa divaksin jika kondisinya sudah benar-benar pulih, artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Kami mulai mendengar cerita tentang pembalikan yang luar biasa. Beberapa pasien akan sakit selama berminggu-minggu dan kemudian semuanya akan membaik dalam 24 jam,” ujar Henderson dilansir dari Milwaukee Journal Sentinel (7/7/2021).

Henderson memperkirakan lebih dari 100.000 pasien COVID-19 telah menerima plasma. Meskipun studi tentang plasma masih dilakukan, pengobatan tampaknya paling efektif bila diberikan dalam lima hingga tujuh hari pertama setelah timbulnya gejala COVID-19.

“Hasil penelitian juga menunjukkan, bahwa plasma dapat membantu pasien COVID-19 dengan kondisi lain seperti penyakit autoimun dan defisiensi imun bawaan,” imbuh Henderson.

Plasma lokal dianggap yang terbaik karena akan lebih mungkin untuk mengatasi varian virus yang paling umum di wilayah geografis. Namun, tetap harus diwaspadai reaksi hipersensitivitas terhadap plasma donor yang dialami oleh pasien. Reaksi langka ini sangat jarang terjadi, di antaranya menimbulkan efek gemetar, kedinginan, dan sesak napas.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »