0 0
Read Time:2 Minute, 11 Second

OBATDIGITAL – Bersin merupakan fenomena yang biasa kita alami sehari-hari. Tapi tahukah Anda, ternyata ada banyak fakta ilmiah yang menarik di baliknya?

Sejumlah peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis, Amerika Serikat, menemukan fakta seputar bersin. Penelitian tersebut dilakukan untuk memahami perilaku sel-sel saraf atau neuron dalam menanggapi alergen dan virus, agar para tenaga medis bisa mengetahui faktor apa saja yang bisa memperlambat penyebaran penyakit pernapasan menular, khususnya di masa pandemi COVID-19 sekarang ini.

Profesor anestesiologi dan ahli anestesi yang tergabung dalam tim peneliti, Qin Liu, PhD menuturkan, mereka mempelajari mekanisme saraf di balik bersin. Pasalnya, ada banyak orang yang mengalami bersin-bersin karena masalah seperti alergi musiman dan infeksi virus.

“Tujuan kami adalah untuk memahami bagaimana neuron berperilaku dalam menanggapi alergi dan infeksi virus, termasuk bagaimana mereka berkontribusi pada mata gatal, bersin, dan gejala lainnya. Studi terbaru kami telah menemukan hubungan antara sel saraf dan sistem lain yang dapat membantu dalam pengembangan pengobatan untuk bersin dan untuk memerangi penyakit pernapasan menular,” jelas Qin Liu dikutip dari Medicine.wustl.edu (15/6/2021).

Dalam penelitian tersebut, Qin Liu dan timnya melakukan pengujian dengan tikus aya untuk mengidentifikasi sel saraf mana yang mengirim sinyal penyebab tikus bersin. Para peneliti memaparkan tikus pada tetesan aerosol yang mengandung histamin atau capsaicin, senyawa pedas yang terbuat dari cabai. Keduanya menimbulkan bersin dari tikus, seperti yang mereka lakukan pada manusia.

Dengan memeriksa sel-sel saraf yang sudah diketahui bereaksi terhadap capsaicin, tim Liu mampu mengidentifikasi kelas neuron kecil yang terkait dengan bersin yang disebabkan oleh zat itu. Para peneliti kemudian mencari molekul yang disebut neuropeptide. Molekul tersebut dapat mengirimkan sinyal bersin ke sel-sel saraf, dan menemukan bahwa molekul yang disebut neuromedin B (NMB) yang memungkinkan bersin itu terjadi.

“Bersin dapat membuat 20.000 tetesan yang mengandung virus yang dapat bertahan di udara hingga 10 menit. Sebaliknya, batuk menghasilkan lebih dari 3.000 tetesan, atau jumlah yang sama yang dihasilkan dengan berbicara selama beberapa menit. Untuk mencegah wabah virus di masa depan dan membantu mengobati bersin patologis yang disebabkan oleh alergen, penting untuk memahami jalur yang menyebabkan bersin untuk memblokirnya. Dengan mengidentifikasi neuron yang memediasi refleks bersin, serta neuropeptida yang mengaktifkan neuron ini, kami telah menemukan target yang dapat mengarah pada pengobatan untuk bersin patologis atau strategi untuk membatasi penyebaran infeksi,” imbuh Qin Liu.

Karena banyak virus dan patogen lainnya, termasuk sebagian besar rhinovirus manusia dan virus corona seperti Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) dan SARS-CoV-2, disebarkan sebagian melalui tetesan aerosol, Liu mengatakan mungkin untuk membatasi penyebaran patogen tersebut dengan menargetkan NMB atau reseptornya untuk membatasi bersin pada mereka yang diketahui terinfeksi.

About Post Author

Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

By Dewi Soemanagara

pernah menjadi reporter di sejumlah media

Translate »