Jumat, April 23, 2021

Meski Ada Varian Baru dan Penggumpalan Darah, Vaksinasi COVID-19 Harus Tetap Jalan

Lansia divaksinasi
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Di tengah upaya pemerintah melaksanakan vaksinasi COVID-19, ada berita kurang sedap yang bisa membuat banyak orang meragukan kemampuan dan keamanan vaksin. Padahal sudah ada sekitar sekitar 40 juta dosis sudah masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk dosis  maupun berbentuk bulk atau bahan baku.

Tentu saja dengan jumlah dosis sebanyak itu diharapkan proses vaksinasi COVID-19 berjalan lancar. Terlebih lagi berbagai fasilitas dan akses vaksinasi makin bertambah banyak, seperti bertambahnya lokasi vaksinasi dan adanya vaksinasi drive thru yang melibatkan usaha swasta.

Menanggapi hal itu, Profesor Sri Rezeki Hadinegoro, ahli vaksin pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan bahwa program vaksinasi yang sudah dijalankan pemerintah sudah berjalan baik. “Aksesnya dan sarananya sudah bagus. Di kota-kota besar seperti Jakarta, bandung, dan Surabaya), sudah berjalan lancar. Pemda-pemda juga sudah menjalankan dengan baik,” ujarnya.

Masalahnya terletak pada warga masyarakat. Masih banyak warga yang masih malas dan memilih menunggu dipanggil untuk menjalani vaksinasi. Padahal sekarang sudah tersedia jalur untuk pendaftaran. Begitu pula pada lansia.

Sejauh ini masih banyak lansia yang belum divaksin.  Ini karena lansia belum banyak mendapatkan bantuan agar bisa divaksinasi. “Ngga ada yang bantu ngurus dari keluarganya,” tambah Sri Rezeki. Padahal di luar negeri, vaksinasi lansia dibantu oleh swasta. Maka, anggota keluarga yang lebih muda sebaiknya membantunya, karena vaksinasi lansia hanya berlangsung dua hari saja: pada saat penyuntikan dosis pertama dan kedua.

Masyarakat pun tak perlu kawatir adanya varian-varian baru virus COVID-19 yang sudah ditemukan di Indonesia. Sebab, semua virus pasti akan bermutasi. “Dampak varian baru itu terhadap efek vaksin baru diketahui dalam jangka panjang,” sambung Sri Rezeki. Yang jelas adanya varian tersebut jangan sampai menunda dan menghambat vaksinasi.

Begitu pula mengenai adanya penangguhan sementara penggunaan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca yang ditunda sementara gegara isu penggumpalan darah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menurut Sri, sudah menyatakan aman.

Kecuali , penggumpalan darah itu merupakan gejala yang kerap terjadi pada lansia dan penderita penyakit komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes dan  hiperkolesterol. Tidak divaksin saja, penderita berisiko mengalami penggumpalan darah. “Vaksin apa saja (bukan hanya vaksin COVID-19) juga punya risiko tromboemboli,” tuturnya.

Ia meminta jangan sampai vaksinasi jadi tertunda-tunda akibat isu penggumpalan darah. Angka kasus penggumpalan akibat vaksin COVID-19 juga terbilang sedikit, sekitar 1%. “Lain halnya jika  kasus penggumpalan darah meningkat 2 kali setelah divaksinasi. Kita perlu kawatir,” katanya.

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Translate »