Novartis Gandeng GSK Pasarkan Antibiotik

Kantor Novartis
Kantor Novartis
<--ads1-->

OBATDIGITAL -Novartis melalui anak usahanya’Sandoz, menjalin kerjasama dengan perusahaan asal Inggris, GlaxoSmithKline (GSK) untuk memasarkan produk-produk antibiotik.

Sandozyang akan memfokuskan pada produk generik akan membeli cephalosporin produk GSK. Selain itu Sandoz juga akan membayar senilai US$ 350 juta untuk pembayaran di muka dan sisaya US$ 150 juta untuk produk Zinnat, Zinacef, Fortum – merk antibiotik yang sudah dijual di lebih dari 100 negara.

Namun tak semua negara dimana GSK punya kantong penjualan yang diserahkan ke Sandoz. AS, Australia, dan Jerman — serta India, Pakistan, Mesir, Jepang, dan China, haknya tetap dipegang GSK. Penjualan total obat GSK di negara-negara tersebut, mencapai US$ 140 juta pada tahun 2020.

Akuisisi ini dilakukan setelah Sandoz berkomitmen € 150 juta, bersama dengan pemerintah Austria, dimana pabrik itu berada, untuk memperluas lokasi produksi antibiotik terkemuka di Kundl.

Dengan penjualan antibiotik itu GSK memfokuskan kembali pada obat-obatan dan vaksin inovatif. Meski begitu GSK masih mempertahankan beberapa aset antibiotik, termasuk merek populer Augmentin serta gepotidacin, obat eksperimental dalam pengujian fase 3 untuk infeksi saluran kemih dan gonore.

Pandemi tidak hanya menghidupkan kembali minat pada penyakit menular tetapi juga mengingatkan dunia akan masalah rantai pasokan antibiotik yang sudah berlangsung lama dan kurangnya pembangunan di lapangan.

Memang, penguncian global memicu penutupan perdagangan lintas batas dan menghentikan pasokan obat dari China, yang kebetulan merupakan pemasok antibiotik terkemuka di dunia. Itu adalah pengingat lain tentang betapa tidak siapnya dunia Barat terhadap pemadaman obat-obatan penting itu.

Perhatian baru terhadap antibiotik memang memacu beberapa tindakan perusahaan farmasi. Sebuah konsorsium besar dari Big Pharmas — termasuk Novartis, serta Pfizer, Johnson & Johnson dan Merck — meluncurkan AMR Action Fund senilai $ 1 miliar dengan tujuan mendapatkan dua hingga empat antibiotik baru yang disetujui pada tahun 2030.

Perusahaan farmasi berencana untuk bekerja melalui dana tersebut, dinamai resistensi antimikroba, untuk menawarkan pendanaan dan keahlian teknis untuk membantu bioteknologi muda memajukan antibiotik baru.