Jangan Percaya Mitos Soal COVID-19!

Dokter Adam Prabata
Dokter Adam Prabata
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Kian hari jumlah kasus COVID-19 terus meningkat. Begitu pula jumlah yang meninggal dunia gegara COVID-19. Namun sampai kini masih sedikit orang yang menganggap COVID-19 bukan penyakit yang perlu diwaspadai dan penyakit alami.

Isu miring atau hoaks bertebaran di media sosial yang berkonotasi negatif. Jumlahnya mencapai ratusan dan diikuti oleh ribuan orang. Tidak sedikit orang yang mempercayai sehingga mereka memilih tidak mengikuti anjuran pemerintah mengenai perlunya pencegahan COVID-19 dengan menjalankan protokol kesehatan dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak). Mereka tetap berkerumun dan tidak memakai masker.

Menurut situs milik Rumah Sakit Primaya, ada sekitar 20 mitos yang berkaian dengan COVID-19. Beberapa di antaranya, sinar matahari bisa membunuh virus Corona karena mengandung ultraviolet, pengering tangan bisa membunuh virus corona, COVID-19 dinilai sebagai alat politik atau bagian dari konspirasi, semprotan disinfektan yang digunakan untuk membunuh virus aman bagi tubuh, memakai masker cukup untuk menegah penularan COVID-19, orang yang lolos dari pemeriksaan suhu berarti lolos pula dari virus Corona, dan sebagainya.

Ada pula mitos yang mengungkapkan bahwa larutan air garam dan minyak kayu putih bisa memusnahkan virus Corona dan sekaligus menyembuhkan COVID-19.

Hal tersebut menjadi perhatian Dokter Adam Prabata, salah seorang selebgram yang memiliki banyak pengikut. Di media sosial dokter yang memiliki akun @AdamPrabata memiliki 2.783 pengikut, dan 132 ribu follower di Instagram.

Adam menganggap mitos itu sangat berbahaya. Selain itu juga tidak membantu memutus mata rantai dan mengurangi penularan COVID-19.

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan kandidat PhD pada Universitas Kobe, Jepang, ini menyebut mitos soal COVID-19 sebagai alat politik ITU tidak benar.

Menurutnya, pendapat yang mengatakan bahwa COVID-19 itu buatan salah satu negara tidak ada bukti ilmiahnya. “Bukti ilmiah arahnya ke Covid-19 itu penyebabnya alami karena ada materi genetik dan protein pada virusnya yang fungsinya belum diketahui pasti,” ujarnya.

Selain itu, dengan simulasi komputer pada era sebelum COVID-19, ternyata dengan materi genetik, COVID-19 malah kemampuannya lemah untuk menginfeksi, yang notabene bertolak belakang dengan kondisi yang sebenarnya, dimana kemampuan penularannya tinggi.

Begitu pula mengenai mitos air garam dan minyak kayu putih. Adam menilai keduanya tidak ada bukti ilmiahnya. “Untuk minyak kayu putih buktinya hanya penelitian in silico atau simulasi komputer. Bukti tersebut tidak cukup untuk menyatakan kalau minyak kayu putih itu bermanfaat untuk COVID-19,” tambah Adam.

Sedangkan soal masker, ia melihat bahwa banyak yang percaya hanya masker atau menjaga jarak saja sudah cukup melindungi orang dari serangan COVID-19. Adam menjelaskan, konsep pencegahan Covid-19 itu seperti lapisan keju Swiss. “Tidak ada satu pencegahan yang bisa melindungi 100%, tapi bila ditumpuk atau dilakukan bersamaan pencegahannya, maka kemungkinan terlindungi akan semakin meningkat,” tuturnya.