Ini Yang Dilakukan BPOM Dalam Mengawasi Vaksinasi COVID-19

Ketua BPOM Penny K Lukito
Ketua BPOM Penny K Lukito
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Vaksinasi COVID-19 sudah berjalan setelah Presiden Joko Widodo divaksin pertama kali pada 13 Januari dan diikuti vaksinasi kedua pada 27 Januari 2021.

Vaksinasi itu berjalan setelah vaksin COVID-19, buatan Sinovac, Cina – yang bakerjasama dengan PT Biofarma – mendapatkan ijin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

BPOM memberikan EUA kepada vaksin tersebut dilakukan secara mendadak, melainkan melalui proses panjang. Yaitu dimulai Evaluasi yang dilakukan oleh Badan POM bersama dengan para ahli berdasarkan data-data hasil uji klinik yang telah dilakukan pada vaksin tersebut untuk memberikan data keamanan dan khasiat vaksin serta data mutu dan proses produksi vaksin.

Setelah menerbitkan EUA, Badan POM bersama-sama dengan Kementerian Kesehatan dan Komite Nasional/Komite Daerah Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas/Komda PP KIPI) melakukan analisis kasualitas jika terjadi keluhan medis yang dirasakan masyarat setelah dilakukan vaksinasi.

Jika ada dugaan kuat, KIPI dipengaruhi oleh produk vaksin, maka BPOM melakukan samping dan pengujian, serta mengambil langkah-langkah investigasi yang diperlukan sesuai prosedur.

Selain itu, menjelasng penggunaan vaksin, BPOM mengawasl distribusi dari Biofarma ke instalasi Farmasi Pemerintah (IFP) di berbagai propinsi untuk dikirim lagi ke sejumlah rumah sakit dimana tenaga kesehatan telah terdaftar sebagai pihak yang akan diimunisasi.

Pengawalan perlu dilakukan lantaran vaksin ini tetap berkualitas sampai disuntikkan ke dalam tubuh penerima vaksin. Yaitu disimpan dalam suhu rantai dingin, yaitu 2-8 derajat Celcius dan menerapkan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Ini untuk mencegah terjadinya penurunan mutu vaksin yang mengakibatkan vaksin menjadi tidak bermanfaat.

*Dalam pengelolaan vaksin, hal yang paling kritikal adalah bangunan dan fasilitas yang digunakan dalam operasional mengingat vaksin adalah produk rantai dingin yang harus dipertahankan mutunya pada suhu penyimpanan 2-8oC atau suhu yang dipersyaratka,” kata Kepala BPOM dalam jumpa pers di IFP di Bandung, Jumat (29/01/2021).

Penny bilang bahwa pihaknya mendorong IFP agar konsisten memperhatikan proses pendistribusian dan pengelolaan vaksin sesuai cara yang baik (good practices) maupun SOP, panduan, pedoman yang berlaku serta dapat segera melakukan tindakan koreksi jika terdapat ketidaksesuaian,” tutur Penny.

Pengawasan dan pemantauan mutu vaksin tersebut dilakukan Unit Pelaksana Teknis BPOM di sarana industri, distributor, instalasi farmasi provinsi, instalasi farmasi kabupaten, dan sarana pelayanan kesehatan.

“UPT Badan POM di seluruh Indonesia siap melakukan pengawalan distribusi vaksin oleh Instalasi Farmasi Pemerintah di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota, sampai dengan diterima di fasilitas pelayanan kesehatan dan memberikan pendampingan pemenuhan penerapan aspek CDOB dan peningkatan kompetensi petugas pengelola Instalasi Farmasi Pemerintah,” tegas Penny.