Thermal Scanner Tak Bisa Diandalkan Deteksi Demam Pada Penderita COVID-19

Pemeriksaan suhu dengan thermogun
Pemeriksaan suhu dengan thermogun
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Selama ini salah satu cara untuk mendeteksi sseorang yang diduga adalah dengan memindai suhu tubuh. Di berbagai mal, pusat perbelanjaan, rumah sakit dan perkantoran, setiap orang Yang akan masuk dipndai dulu dengan thermal scanner. Alat itu diletakkan di dekat dahi atau lengan.

Namun menurut studi terbaru, cara tersebut rupanya kurang efektif untuk mendeteksi demam si pengunjung. “Jika pemindai tidak memberikan pembacaan yang akurat, kami berisiko mengeluarkan orang bersuhu tinggi) dari tempat yang mungkin mereka inginkan, atau butuhkan, untuk dikunjungi,” kata profesor Mike Tipton, Universitas Portsmouth, Inggris dalam siaran persnya yang dikutip Pharmacy Times 920/1/2021).

“Kami juga berisiko membiarkan orang dengan virus menyebarkan infeksi yang tidak terdeteksi dan masuk dalam ruangan,” sambungnya.

Menurut Tipton, cara yang lebih akurat adalah dengan menggunakan ujung jari tangan dan mata. Itu berdasarkan studi yang dilakukan bersama koleganya. Ia mengatakan bahwa ada 4 faktor kunci dalam penularan. Baginya suhu tubuh tidak praktis dan akurat.

Mengukur suhu kulit tidak memberikan perkiraan yang akurat untuk suhu tubuh bagian dalam, karena pengukuran langsung suhu tubuh bagian dalam tidak praktis.Suhu yang tinggi, meski diambil dari dalam tubuh, tidak selalu berarti seseorang terjangkit COVID-19.

Begitu pula memindai panas tubuh lewat dahi. Sebab melalui kulit suhunya tidak stabil dan independen. Sebab olahraga pun dapat meningkatkan suhu tubuh. sehingg apengukuran suhu yang kerap dipakai tak bisa diandalkan.

Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar orang dengan COVID-19 tidak mengalami demam, dan kurang dari setengah dari mereka yang dirawat di rumah sakit dengan dugaan COVID-19 mengalami demam. Meskipun sebagian besar kasus positif terus berkembang menjadi suhu tinggi setelah dirawat di rumah sakit, mereka menular sebelum suhunya melonjak, menurut penulis penelitian.

“Kami pikir kami dapat meningkatkan identifikasi keberadaan demam dengan menggunakan alat yang sama tetapi melihat perbedaan antara suhu mata dan jari — itu tidak sempurna, tetapi berpotensi lebih baik dan lebih dapat diandalkan,” kata Tipton dalam siaran pers.

Perubahan suhu tubuh bagian dalam merupakan faktor penting dalam mendiagnosis penyakit dengan peningkatan hanya 1 derajat yang menunjukkan potensi penyakit. Banyak metode untuk mendeteksi suhu tubuh bagian dalam yang mahal, invasif, atau memakan waktu untuk digunakan secara luas di luar pengaturan rumah sakit, menurut penulis penelitian.

Penelitian sebelumnya pada tahun 2005 yang membandingkan suhu dahi dengan 3 termometer infra merah yang berbeda memberikan suhu yang berbeda untuk 1000 orang, mulai dari 31 ° C hingga 35,6 ° C. Pengukuran termometer inframerah sendiri bervariasi hingga 2 ° C. Studi lain menemukan bahwa lebih dari 80% dari 500 orang yang diuji menggunakan inframerah memberikan hasil negatif palsu.

Perbedaan suhu kulit seperti itu dapat disebabkan oleh berbagai alasan, termasuk apakah individu tersebut baru-baru ini berolahraga, mengalami infeksi, terbakar sinar matahari, seberapa dekat seseorang berdiri dengan pemindai, dan bahkan tekanan darah, menurut penelitian.