Tinjauan Saham Farmasi Sepekan

Pergerakan saham
Pergerakan saham
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Seusai pengumuman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengenai pemberian ijin penggunaan darurat (EUA) kepada vaksin COVID-19 buatan Sinovac, Cina, sejumlah saham farmasi menghadapi euforia.

Saham-saham mereka naik 3%. Di pagi hari saham emiten farmasi sempat melesat hingga 3%. Itu terjadi menjelang vaksinasi pertama yang dilakukan pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu (13/1/2021).

Saham PT Tempo Scan Pacfic (TSPC) naik 9,55% menjadi Rp 2.180 per lembar saham. Kemudian Badan usaha Milik Negara PT Indofarm Tbk (INAF) naik 8,4% menjadi Rp6,775. Dan diikuti saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) Rp 6.900 per saham melonjak 6,98%.

Namun setelah vaksinasi tersebut, saham-saham farmasi terjun bebas. Paling tidak terdapat tujuh saham emiten farmasi yang turun. INAF turun 6,4%, disusul KLBF turun 6,8%, PEHA (PT Phapros Tbk) 6,8%, Lalu PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) jeblok 6,7%, diikuti Tempo Scan Pacific (TSPC) turun 6,8%, dan Itama Ranoraya (IRRA) turun 6,7%.

Karena sebelum ada kenaikan dan kemudian ada penurunan harga saham, saham mereka mengalami auto reject bawah (ARB). Menurut ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan harga saham mendekati 7% akan mengalami ARB.

ARB rupanya berlangsung sampai Jumat (15/1/2021). Namun tidak sebanyak 7 emiten yang mengalaminya.

Sejumlah pengamat saham menduga bahwa ini terjadi karena ada profit taking dimana pemain saham mengambil untuk dengan memborong saham dan dalam waktu singkat dijual kembali.

Kemungkinan lain, karena efikasi vaksin COVID-19 yang dibawah ekpektasi banyak orang telah membuat kekecewaan investor pula. Sehingga mereka memilih menjual saham yang baru dibelinya.