Hore, BPOM Berikan EUA Kepada Vaksin COVID-19 Sinovac

Ketua BPOM Penny K Lukito
Ketua BPOM Penny K Lukito

OBATDIGITAL – Setelah melalui proses praklinis, uji klinis tahap1 sehingga tahap 3, dan peninjauan mutu dengan mengunjungi pabrik Sinovac di Beijing, Cina, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan ijin penggunaan darurat (EUA) untuk vaksin COVID-19 Sinovac.

Dalam jumpa pers yang digelar secara virtual pada Senin (11/1/2021), Penny K Lukito, kepala BPOM mengatakan vaksin COVID-19 Novovac telah memenuhi persyaratan dari segi keamanan dan efikasi. ‘Tingkat efikasinya mencapai 65.3%,” ujarnya.

Efikasi ini memang lebih rendah dari hasil uji klinis di Brazil yang menunjukkan angka 78% dan Turki 90%. namun demikian tambah Penny, efikasi ini masih di atas batas minimal yang disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu sebesar 50%. “Sehingga vaksin dianggap sudah memenuhi syarat dan bisa diberikan sesuai dengan EUA yang diberikan BPOM,” katanya.

Sedangkan mengenai efek samping, dilaporkan berupa efek samping ringan, seperti diare, sakit kepala dan sebagainya. Tentu saja bukan berarti setelah divaksin, orang yang divaksin bebas tidak menggunakan masker, tidak menjaga jarak, dan tidak mencuci tangan (3M).

Keputusan itu dibuat setelah berdasarkan hasil evaluasi dan rapat tim ahli epidemologi dan vaksin. Selain itu juga berdasarkan hasil bukti ilmiah yang suah dilakukan di negara lain.

Penny menjelaskan bahwa pemberian EUA kepada vaksin tersebut dilakukan dengan berpedoman pada prinsip kehati-hatian, independensi dan transparansi.

Ketua umum Ikatan Dokter Indonesia Daeng Faqih mengatakan bahwa sudah lengkap status vaksin ini. Setelah Majelis Ulama Indonesia memberikan pernyataan bahwa vaksin ini suci dan halal, maka hari ini BPOM menunjukkan bahwa vaksin itu juga aman dan efikasi.

“IDI akan memberikan dukungan penuh dengan prioritas dan tenaga kesehatan untuk pelaksanaan. Kami juga meminta masyarakat untuk menghentikan polemik soal keamanan vaksin,” ujarnya.

Sementara itu muncul pertanyaan apakah setelah divaksin, penerima vaksin bebas mengabaikan 3M, Sri Rezeki, ahli vaksin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – yang juga salah satu satu pengurus ITAGI – yang hadir dalam jumpa pers itu menegaskan bahwa orang yang divaksin pertama, di tubuhnya belum membentuk antibodi sepenuhnya sehingga masih rentan terpapar virus. Begitu pula setelah diberi vaksin kedua yang dianggap sebagai ajuvan. “Penerima vaksin masih rentan dalam masa 14 hari hingga sebulan,” ujar Sri Rezeki.