Mengapa Indonesia Buru-buru Beli Vaksinn? Ini Jawaban Menkes

pemeriksaan covid-19di salah satu bandara
pemeriksaan covid-19di salah satu bandara

OBATDIGITAL – Vaksin COVID-19 kini menjadi “barang” rebutan. betapa tidak produsennya bisa dihitung dengan jari, sementang pemburunya bermilyaran. Tidak heran banyak negara berebutan memperolehnya lebih dulu agar bisa mencegah COVID-19, dan makin sedikit korban berjatuhan.

Maka, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjawab pertanyaan mengapa Indonesia terkesan terburu-buru membeli vaksin COVID-19. Padahal, hasil uji klinik fase III di beberapa negara belum disampaikan.

Menurutnya, kondisi vaksin di dunia tidak ideal dengan total penduduk dunia ada 7,8 miliar jiwa. Mereka menargetkan 5,5 miliar penduduk divaksin. Kalau satu orang membutuhkan 2 dosis, berarti dibutuhkan 11 miliar doses. Sedangkan kapasitas vaksin hanya 6,2 miliar dosis per-tahun.

“Untuk kebutuhan [penanganan] COVID-19 [kapasitasnya] 11 miliar doses,” tuturnya dalam konferensi pers Universitas Padjajaran dengan tema “Vaksinasi COVID-19: Apa yang Perlu Diketahui Para Tenaga Kesehatan?”, yang juga diikuti OBATDIGITAL, Sabtu (09/01/2021).

Ini menjadi kebimbangan pemerintah, mengingat Indonesia berharap dalam jangka waktu 15 bulan, 70% warga sudah divaksinasi. Rencananya, ada 181 juta orang yang harus mendapatkan vaksin, sehingga dibutuhkan 246 juta doses vaksin.

Sampai saat ini, Indonesia telah bersinergi dengan empat perusahaan farmasi internasional untuk penyediaan vaksin. Pertama dari Sinovac yang mendistribusikan 125 juta doses dengan opsi tambahan 100 juta doses.

Kedua, Novovac akan menyediakan 50 juta doses dengan opsi 80 juta doses. Ketiga AstraZeneca rencananya mengirimkan 50 juta doses dengan opsi tambahan 50 juta doses. Keempat, pemerintah juga sebentar lagi akan mengadakan perjanjian kerja sama dengan Pfizer.

Problem-nya, negara maju pinter, udah ijon duluan, sehingga 4,7 miliar udah ijon duluan. Kebayang kalau negara berkembang seperti Bangladesh dan Pakistan, 2 tahun lagi baru dapat [vaksin]. Rebutan luar biasa untuk men-secure supply vaksin. Untung Indonesia masuk di awal dengan segala dinamikanya,” katanya.

Budi pun menuturkan, opsi tambahan didapatkan apabila perjanjian multilateral dengan Gavi tercapai. Pasalnya, list Gavi kerap mengalami perubahan mengenai ketersediaan vaksin gratis asal AstraZeneca, Novovac, dan Moderna.

“Mereka [Gavi] kasih 54 juta doses, usahakan naik 20% lagi untuk populasi masyarakat Indonesia. Ini belum pasti ya. Saya dengar minggu depan ada Pfizer, Indonesia akan mendapatkan 50 juta vaksin gratis,” ujar Menkes.

Tidak hanya Indonesia yang melakukannya. Negara lain pun seperti itu dan menanti kapan dapat giliran vaksin pesanannya sampai ke negara yang bersangkutan agar bisa disuntikkan ke warganegaranya.