Mengapa Usia Produktif Jadi Prioritas Pertama Vaksinasi COVID-19?

Vaksinasi pada remaja
Vaksinasi pada remaja
<--ads1-->

OBATDIGITAL – Dalam sasaran pertama vaksinasi COVID-19, beberapa negara memrioritaskan para lansia – selain tenaga kesehatan – yang divaksinasi terlebih dahulu. Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara maju lainnya seperti negara-negara Eropa, melakukannya karena menganggap para manula rentan terpapar virus Corona – penyebab penyakit COVID-19.

Tapi yang dilakukan Indonesia? Selain tenaga kesehatan dan pegawai negeri sipil, yang disasar lebih dulu justru orang dewasa yang dianggap sebagai usia produktif, yang pada kisaran 18-55 tahun. Tujuannya, seperti dilansir Reuters (5/1/2021), golongan usia produktif bisa mencapai kekebalan dengan cepat dan sehingga bsa menghidupkan kembali ekonomi.

Namun ini dibantah paling tidak oleh pejabat di Kementerian Kesehatan (Kemenkes). “Kami tidak melawan tren,” kata Siti Nadia Tarmizi, seorang pejabat senior kementerian kesehatan. Pihaknya masih menunggu rekomendasi dari regulator obat negara untuk memutuskan rencana vaksinasi untuk orang tua.

Seperti diketahui Indonesia pertama kali mendatangkan vaksin COVID-19 buatan Sinovac, Cina. Ini karena Jakarta harus menunggu antrean vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech, yang sudah dipesan lebih dulu dan diborong oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.

Negara Asia Tenggara itu memiliki kesepakatan untuk menerima 125,5 juta dosis suntikan CoronaVac Sinovac, dan 3 juta dosis pertama sudahdidatangkan ke Indonesia dan disimpan di Biofarma sebelum didistribusikan ke sejumlah provinsi secara bertahap mulai pekan ini.

Sementara itu, pengiriman vaksin buatan Pfizer-BioNTech ke negara tersebut diharapkan dimulai pada kuartal ketiga, sedangkan vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca-Universitas Oxford akan mulai didistribusikan pada kuartal kedua tahun.

“Saya rasa tidak ada yang bisa terlalu dogmatis tentang pendekatan yang tepat,” kata Profesor Peter Collignon, ahli penyakit menular di Australian National University, menambahkan bahwa  ini merupakan strategi Indonesia dapat memperlambat penyebaran penyakit, meskipun mungkin vaksinasi iu tidak mempengaruhi lonjakan kematian.

“Indonesia melakukan hal yang berbeda dengan AS dan Eropa, karena ini akan memberi tahu kami (apakah) Anda akan melihat efek yang lebih dramatis di Indonesia daripada Eropa atau AS. Saya tidak pikir semua orang tahu jawabannya. “

Sementara tu, Profesor Dale Fisher dari Fakultas Kedokteran Yong Loo Lin di National University of Singapore memahami dasar pemikiran pendekatan Indonesia.

“Orang dewasa yang bekerja lebih muda umumnya lebih aktif, lebih sosial dan lebih banyak bepergian sehingga strategi ini harus mengurangi penularan komunitas lebih cepat daripada memvaksinasi orang yang lebih tua,” katanya.